Tampilkan postingan dengan label Akhwat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhwat. Tampilkan semua postingan

4 Rahasia Muslimah

Leave a Comment
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualiakum warahmatullahi wabarakatuh
=============================

Duhai saudariku, kupersembahkan senandung gerakan ujung penaku ini untukmu yang ingin merasakan indah dan paripurnanya risalah langit dari Allah ‘azza wajalla agar bertambah dan semakin kokoh hasratmu dalam menikmati posisimu sebagai kaum hawa..

Segala puji bagi Allah ‘azza wajalla yang telah menyempurnakan langit tanpa tiang dan menjadikan taburan bintang sebagai pelengkap indah dan pesonanya.
Semoga shalawat dan salam tetap tercurah teruntuk sosok yang begitu mulia dan dicinta penduduk bumi dan langit, dialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam..

Inilah kupersembahkan padamu duhai ukhti fillah, 4 kelebihan wanita muslimah sepertimu:

1. Makhluk Mulia nan Penuh Misteri….

Hal pertama yang kukabarkan padamu bahwa engkau adalah sosok yang dimuliakan oleh Allah dan Rasul-Nya. Namun kukatakan pula bahwa engkau adalah makhluk nan penuh misteri. Lihatlah disana literatur-literatur bertumpuk membahas tentangmu sebagai makhluk yang berbeda dengan kaum adam.

Engkaulah topik yang menjadi inspirasi sekaligus menjadi kuncup-kuncup nan mempesona dalam menggerakkan pena dan tinta para penulis. Sekiranya seluruh pendapat dan pandangan yang tertuju padamu dihimpun menjadi satu maka tidak akan pernah tertampung dalam buku tebal nan berjilid-jilid. Dan tentu saja wahai belahan jiwa kaum adam, pembicaraan tentangmu tidak akan pernah gersang atau pun usang seiring musim silih berganti..

2. Pecahan-pecahan Emosional yang Menenteramkan….

Duhai saudariku yang mulia..
Ketika aku berbicara tentang kaum hawa maka aku sedang menyelami sisi emosional yang umumnya dijadikan pijakan dalam berpikir oleh kaum hawa sendiri, bukan dengan nalar. Kukatakan demikian karena Allah telah menganugerahkanmu sisi emosional yang lebih dominan daripada nalar. Sisi emosional ini pun bereaksi lebih cepat dari nalar. Porsi emosional yang ada pada kaum hawa pula lebih besar dibanding yang ada pada kaum kami laki-laki. Adakah Allah ‘azza wajalla menzalimi kita dengan perbedaan porsi tersebut??

Aku harap engkau mampu menemukan jawabannya dengan menyusuri untaian kalimatku sehingga bertambah kecintaanmu pada Allah. Bertambah kekuatanmu dalam manghadapi ganasnya badai di samudera kehidupan dan bertambah pula kekokohan pribadimu bak karang yang tak goyah dihempas ombak..

3. Curahan Kasih Sayang yang Mengharukan…

Penaku selanjutnya akan mengajakmu berkunjung ke negeri Mesir di zaman Fir’aun. Dialah seorang raja yang memerintahkan pengawalnya untuk membunuh seluruh bayi laki-laki yang lahir saat itu. Maka ibunda Musa khawatir akan putranya yaitu nabi Musa kecil nan mungil. Lalu, Najiyah, ibunda musa menuliskan kalimat-kalimat pada setiap pojok peti berbentuk kubus yang didalamnya berisi musa kecil. Peti itu akan dihanyutkan di sungai guna menyelamatkan anaknya.

Di sisi pertama ia menulis: “duhai Rabb, kuletakkan sambungan jiwaku dalam peti ini, seperti yang Kau perintahkan.”
Di sisi kedua ia menulis: ”ya Rabb, kuhanyutkan buah hatiku ke sungai, seperti yang Kau perintahkan.”
Di sisi ketiga ia menulis: ”ya Rabb, arus sungai akan membawa jantung hatiku ke tepian, seperti yang Kau perintahkan.”
Pada sisi keempat ia menulis: ”ya Rabb, kembalikanlah dia kepadaku, seperti yang Kau perintahkan.”

Selanjutnya pada sisi penutup peti, ia menulis: ”ya Rabb, jadikanlah ia rasul-Mu, seperi yang Engkau janjikan.” Lalu berlinaglah air mata cinta. Berdukalah hati yang tengah tersayat. Duh penaku tak sanggup lagi berkisah.

Saudariku,..
Lihatlah Najiyah, ibunda Musa, dengan perasaan keibuannya yang begitu tinggi, ia rela menghanyutkan sang putra di sungai agar selamat dari kekejaman Fir’aun. Tentulah gesekan-gesekan gelombang cinta dalam jiwanya sedang berkecamuk untuk menolak tindakannya itu. Namun apalah daya. Akankah naluri keibuannya tega melihat leher putranya mengalirkan darah??? Tidak, tidak, tidak.. Musa kecil harus seger diselamatkan.
Itulah salah satu luapan sisi emosional kaum hawa yang Allah anugerahkan dengan porsi yang dominan daripada kaum adam.

4. Percikan Bahagia Penuh Cinta…

Dengan anugerah sisi emosional yang dominan, engkau akan mampu bersikap penuh perasaan dan kasih sayang terhadap suamimu. Engkau mampu mengusap air mata suamimu yang berlinang karena sedih lalu menggantikannya dengan senyum dan tawa bahagia, menghilangkan duka dan lara,. Engkau mampu memberikan sentuhan lembut kala raga begitu lelah berterik mentari di arena kehidupan, lalu menggantikan dengan sejuk jiwamu. Engkau akan cantik dan bak permata akan menyenangkan mata suamimu terkasih dan tentu saja menjadi perhiasan terindah yang menjadi dambaan lelaki, lalu surgapun engkau dapatkan.

Engkau pula (dengan sisi emosionalmu) akan mendidik makhluk Allah yang mungil baik dari kaummu sendiri maupun dari kaum lelaki. Engkau akan mendidik mereka menjadi kesatria-kesatria tangguh dan berilmu syar’i. Mereka akan berteriak dari masa depan yang cerah dengan berkata :

“ibuuuuuu, aku telah menghafal al-qur’an,”
“Buuuundaaaa, anakmu ini udah menghafal hadist-hadist nabi-Nya,”
“aku sudah fasih berbicara bahasa arab, mamaaaa.”
“Umiiiii, aku ingin tinggal di surga..”

Subhanallah ukhtiku.., engkau begitu agung. Namun ma’afkan aku, tarian penaku harus terhenti disini karena hitam bola mataku mulai berkaca.



Read More...

Hijab is Beautiful

Leave a Comment
Read More...

Jilbab Syar'i

Leave a Comment
Read More...

Muslimah & Tarbiyah

Leave a Comment
Muslimah merupakan komponen dalam keluarga dan masyarakat yang sangat menentukan  perannya dalam membentuk generasi dan menciptakan peradaban. Sejarah telah mencatat, sejak zaman nabi Adam, hingga nabi yang terakhir nabi kita Muhammad SAW, banyak kita dapatkan kisah betapa muslimah (wanita) di sekitar  para nabi sangat berperan di dalam membantu tugas dakwah para nabi. Sebagai contoh misalnya peran Siti Aisiah  istri Firaun, di tengah kehidupan jahil Firaun dan anak buahnya, Aisiah telah menunjukkan keteguhannya dalam memegang keimanan kepada Allah SWT, dan kepada Musa AS, walaupun harus menanggung ujian berat. Demikian juga peran ibu Musa ketika musa masih bayi, yang dengan ikhlas memenuhi perintah Allah untuk menghanyutkan bayinya. Juga peran kakak  Musa AS yang turut serta memantau kotak yang berisi bayi Musa yang dihanyutkan. Kita lihat juga bagaimana peran Siti Hajar ayah Ismail AS, dalam mendidik anaknya sehingga mampu menjadi hamba Allah yang sabar ketika menerima perintah  untuk disembelih. Lihatlah juga bagaimana pengorbanan dan perjuangan Khadijah RA dalam membela dakwah suaminya. Peran Asma binti Abu Bakar yang telah membantu kesuksesan dakwah Rasulullah SAW. Kepandaian Aisyah RA, sehingga mampu mendidik kaum wanita sepeninggal Rasul, dengan mengajarkan berbagai macam hadits.
Munculnya muslimah yang demikian besar perannya dalam kehidupan dan sejarah perjuangan  para nabi, tentu tidak secara instant dan tiba-tiba. Mereka semua menjadi muslimah yang tangguh dalam segala hal, adalah berkat adanya proses pembinaan yang berkelanjutan.
Maka jika kita semua, tanpa kecuali, baik laki-laki ataupun perempuan ingin mengulang sejarah, mengukir kembali pribadi-pribadi muslimah yang siap mendukung terciptanya peradaban Islam yang gemilang, mestilah memberikan dukungan yang penuh terhadap aktivitas tarbiyah muslimah. Pemahaman ini penting, sehingga akan ada kerja sama  yang selaras antara ikhwan dan akhwat dalam mensukseskan program tarbiyah muslimah.
Pembinaan merupakan sesuatu yang niscaya, karena fitrah manusia yang senantiasa membutuhkan nasihat dan perhatian. Kenapa demikian?
Karena manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT di mana salah satunya memiliki sifat lupa. Dengan demikian, manusia, termasuk di dalamnya muslimah butuh untuk selalu diingatkan dan diarahkan (Fa dzakir fainna dzikra tanfaaul mu’minin).
Karena tabiat manusia yang membutuhkan hidup berkelompok. Pembinaan dalam beberapa hal melatih bagaimana muslimah dapat hidup berkelompok dengan berbagai tanggung jawabnya.
Karena manusia memiliki tabiat lemah dan bodoh. Dengan kesadaran ini, maka muslimah akan terpacu untuk senantiasa menambah ilmu dan wawasan sehingga akan dapat mengarungi kehidupannya dengan  ilmu dan pemahaman
Dari uraian di atas, kita  dapat memahami bahwa beberapa urgensi tarbiyah bagi Muslimah adalah sebagai berikut:
1.     Dengan tarbiyah muslimah dapat  menambah ilmu dan wawasan
2.     Dengan tarbiyah muslimah dapat mendukung suami dalam dakwah
3.     Dengan tarbiyah muslimah dapat sukses dalam mendidik anak
4.     Dengan tarbiyah  muslimah dapat  eksis di tengah masyarakat untuk bekerja sama dalam memberdayakan lingkungan yang islami.
1. Tarbiyah  merupakan sarana untuk menambah ilmu dan wawasan.
Ilmu akan menjadi cahaya dalam melangkah. Ilmu akan memandu setiap langkah muslimah. Dengan  ilmu juga seseorang akan menjadi takut kepada Allah. Ilmu juga akan mengangkat derajat seseorang di sisi Allah dan di sisi manusia.
Al-Qur’an surat al mujaadilah ayat 11:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujaadilah: 11)
Jika para muslimah memiliki ilmu dan wawasan yang luas, mereka akan mampu memberikan pengajaran dan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya, mengetahui jalan-jalan kebaikan, yang dengannya dia akan banyak kesempatan/peluang untuk beramal, mampu mengajarkan  kebaikan kepada masyarakatnya. Dan  seorang muslimah yang memiliki banyak ilmu dan wawasan tidak akan ditipu dan dibohongi oleh pihak-pihak yang ingin menjerumuskannya dari kalangan musuh-musuh Allah.
akhwat cute new performDengan tarbiyah yang dilakukan secara rutin setiap pekan dalam halaqah, peluang-peluang untuk mendapatkan tambahan ilmu akan semakin besar, karena selain mendapatkan ilmu-ilmu secara langsung dari murabbinya, di dalam halaqah  juga seorang muslimah akan dimotivasi untuk memperbanyak kegiatan menggali ilmu di luar halaqah, misalnya dengan  aktivitas membaca. Para shahabiyah terbiasa menanyakan hal-hal yang belum diketahui kepada Rasulullah dan para istri-istrinya, karena semangat  mencari ilmu yang tinggi.  Aisyah RA termasuk salah seorang shahabiyah sekaligus istri nabi yang  memiliki ilmu dan wawasan yang sangat luas, terbukti dengan meriwayatkan banyak hadits, yang jumlahnya lebih dari 200.
Muslimah yang memiliki ilmu  pada gilirannya juga akan meningkatkan keimanan. Karena iman harus didahului dengan ilmu. Perhatikan firman Allah: Fa’lam annahu Laa ilaaha illaLLAH. Kata fa’lam tersirat makna agar kita punya ilmu, sehingga kita bisa mengimani  Allah.
Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa iman seseorang kadang naik dan kadang berkurang (Al Iimanu yaziidu wayankusu). Dalam kehidupan seorang muslimah, manakala dia mengalami penurunan iman, maka akan berdampak buruk bagi orang-orang di sekelilingnya, baik suami, orang tua, maupun anak-anaknya. Dampak buruk itu misalnya dapat berupa menjadi sasaranpelampiasan kemarahan. Jika hal ini berlangsung terus menerus, tidak mustahil akan berakibat pada penurunan produktivitas dari suatu keluarga. Kita bisa membayangkan seorang suami yang menjadi sasaran kemarahan istri, pasti tidak dapat bekerja secara konsentrasi dan optimal. Demikian juga anak-anak di sekolah tidak dapat belajar dengan konsentrasi dan baik, manakala selalu dimarahi oleh ibunya. Seseorang yang marah, pada hakikatnya  dia sedang membuang-buang energi, yang berarti melakukan kesia-siaan.
Selain menjadi mudah marah, seorang muslimah yang mengalami penurunan iman juga akan menjadi malas dalam melakukan aktivitas ibadah. Kemalasan dalam beribadah ini pada akhirnya juga akan menurunkan kembali keimanan, sehingga menjadi lingkaran tak berujung. Bisa kita bayangkan jika muslimah tidak mendapatkan siraman dalam tarbiyah yang akan menghidupkan dan menyegarkan  kembali keimanannya. Ibarat tanaman yang menjadi segar kembali setelah layu karena tidak disiram. Kemalasan dalam melakukan ibadah juga akan menjadi satu hal yang pada gilirannya akan di contoh oleh anak-anak. Akhirnya akan lahirlah generasi yang pemalas.
Rasulullah saw mengajarkan kita  untuk berdoa agar terhindar dari sifat malas:
Allahumma inna na’udzubika minal hammi wal hazan wana’udzubika minal ajzi wal kasal, wanau’dzubika minal jubni  wal buhl, wanau’dzubika min ghalabatidaeni waqohri rijal.
Artinya: “Yaa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sempit dalam dada dan rasa gelisah. Aku pun berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut dan kikir. Aku berlindung kepada-Mu dari belenggu utang dan tekanan manusia:
Penurunan keimanan pada gilirannya juga akan melemahkan motivasi dalam banyak  hal. Orang yang lemah motivasinya akan kehilangan semangat dalam menggapai sesuatu yang lebih baik di masa depan. Padahal Rasulullah saw menyampaikan kepada kita bahwa:
“Orang yang keadaannya hari ini lebih buruk dari hari kemarin, adalah orang yang celaka, sementara orang yang keadaannya hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia adalah orang yang rugi. Dan orang yang beruntung adalah orang yang keadaan hari ini lebih baik dari hari kemarin.”
Dengan keimanan yang terus meningkat, seorang muslimah akan lebih produktif di dalam beramal, baik dalam lapangan kehidupan keluarga maupun kehidupan masyarakat. Dengan demikian tidak dapat di bantah lagi bahwa semua pihak harus mendukung untuk terlaksananya  tarbiyah bagi  muslimah.
Selain hal-hal tersebut di atas, dengan aktivitas tarbiyah, yang  juga terkandung makna aktivitas thalabul ilmi, seseorang akan dimudahkan  jalan masuk ke surga.
“Barangsiapa yang berjalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan jalan baginya untuk masuk surga”
2. Dengan Tarbiyah, muslimah dapat mendukung suami dalam dakwah
dakwatuna.com – Perempuan dan laki-laki diciptakan oleh untuk saling bekerja sama dalam kebaikan sebagaimana firman Allah di dalam surat at Taubah 71
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah: 71)
Seorang muslimah yang terbina akan memahami posisi dirinya sebagai mitra suami dalam menjalankan tugas dakwah. Maka ia akan berusaha bahu membahu dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakatnya. Ia akan memahami betul bagaimana menjadi seorang istri yang shalihah, yang senantiasa taat kepada suami dalam kebaikan, menjaga kehormatan dan harta suami, serta menyenangkan bila dipandang. Muslimah yang terbina juga akan senantiasa mendukung dan memotivasi suami untuk selalu istiqamah di jalan dakwah, dan tidak akan menghalang-halangi suami dalam  amal kebaikan.  Langkahnya selalu terinspirasi oleh sosok Khadijah RA, istri Rasulullah yang secara total menyerahkan apa saja yang dimilikinya untuk kepentingan  dakwah Islam, baik harta, waktu, serta jiwanya.
Berbahagialah  seorang suami yang memiliki pendamping yang setia dan penuh pengorbanan seperti pengorbanan Khadijah RA. Sosok Khadijah lahir dari proses pembinaan yang intensif.
Agar muslimah dapat  mendukung dakwah suami secara optimal, maka dirinya dituntut untuk mampu memenej semua sumber daya yang ada dengan baik, baik sumber daya yang berupa harta, tenaga, ataupun waktu. Di sinilah pentingnya seorang muslimah memiliki keterampilan-keterampilan rumah tangga ataupun keterampilan tambahan yang akan mendukung tugas-tugasnya.
Muslimah membutuhkan banyak keterampilan dalam menjalankan seluruh aktivitas kehidupannya, baik dalam lingkungan rumah tangga, maupun dalam lingkungan  kehidupan sosial masyarakat. Mulai dari  keterampilan mengurus diri dengan manajemen waktu, keterampilan dalam kehidupan rumah tangga dengan tugas-tugas merawat dan mendidik anak, menjaga kerapian dan keindahan rumah dll. Juga keterampilan untuk berkomunikasi  dengan orang lain. Keterampilan-keterampilan tersebut mungkin nampaknya sepele, tetapi jika tidak disiasati dengan baik, akan berakibat pada  kualitas hidup yang tidak baik, karena terjadi pemborosan sumber daya.  Seorang muslimah di tuntut untuk dapat bekerja dengan cerdas, ikhlas dan tuntas, dan bukan sekadar bekerja keras, sehingga ia dapat  mendukung tugas dakwah suami, dan melaksanakan tugas dakwah bagi dirinya.
Allah swt berfirman di dalam surat at Taubah 105 :
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.”” (QS. At Taubah: 105)
Tarbiyah adalah jalan bagi seorang muslimah untuk dapat memahami, termotivasi dan membekali diri agar dapat melaksanakan tugas-tugas dan fungsinya sebagai seorang istri dalam membantu tugas suami dengan baik.
3. Dengan tarbiyah, muslimah akan dapat sukses mendidik anak.
Pemahaman akan nilai strategis  seorang anak sebagai investasi pahala yang tak pernah putus bagi orang tuanya, akan memotivasi para muslimah untuk senantiasa memperhatikan dan bersemangat dalam mendidik anak-anaknya menjadi generasi rabbani, saleh dan muslih. Pemahaman dan kesadaran demikian akan muslimah dapatkan dalam proses tarbiyah. Berawal dari pemahaman dan kesadaran inilah seorang muslimah akan berjuang sungguh-sungguh dalam mendidik anak-anaknya.
Pada hakikatnya, tarbiyatul aulad adalah merupakan kewajiban dan tanggung bersama antara ayah dan ibu, akan tetapi secara fitrah, muslimah akan lebih dekat interaksinya dengan anak-anak, karena ia sudah berinteraksi secara fisik dengan “ibu” sejak masih ada dalam kandungan. Seorang  ayah seringkali lebih banyak berperan pada hal-hal yang bersifat strategis dalam pendidikan anak, adapun manajemennya lebih banyak ada di tangan ibu. Oleh karena itu, seorang muslimah dituntut untuk memiliki  dan memahami banyak ilmu, keterampilan, dan hal-hal lain terkait dengan pendidikan anak, sehingga anak-anaknya akan menjadi sukses dunia akhirat.
Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bagaimana orang tua menyayangi anak-anaknya dengan ciuman kasih sayang, sehingga beliau mengomentari sahabat yang tidak pernah sekalipun mencium anak-anaknya dengan ungkapan “barangkali Allah telah mencabut kasih sayang dari dirinya”
Suatu kali Rasulullah saw juga mendoakan anak-anak yang sedang bermain dengan dagangannya dengan doa “semoga Allah memberkahi daganganmu”.
Demikian juga kita melihat contoh para shahabiyah dan salafusshaleh dalam mentarbiyah anak-anaknya. Misalnya al Khansa, telah berhasil menanamkan jiwa syuhada kepada kelima anaknya, sehingga semuanya mendapatkan anugerah syahid.
Seorang muslimah yang terbina sudah semestinya mencita-citakan agar suami dan anak-anak serta dirinya menjadi penghuni surga dengan Rahmat dan Kasih SayangNYA. Inilah cita–cita muslimah seperti yang Allah firmankan dalam surat Ath-Tthuur ayat 21:
وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thuur: 21)
Jadi, ukuran kesuksesan mendidik anak adalah berhasil menjadikan anak-anaknya sebagi penghuni surga. Adapun kesuksesan-kesuksesan yang sifatnya dunia dan materi hakikatnya itu merupakan asesoris yang akan mempercantik “kesuksesan hakiki menjadi penghuni surga”.
4. Dengan Tarbiyah, muslimah dapat eksis di tengah masyarakat untuk bekerja sama dan memberdayakan lingkungan masyarakat yang Islami
Kehadiran muslimah di tengah lingkungan masyarakatnya harus dapat memberi pengaruh yang positif, mampu mencetak lukisan indah di tengah masyarakat, dan bukan melebur pada warna lukisan yang ada di masyarakat. Agar dapat memberikan pengaruh  yang demikian, seorang muslimah membutuhkan bekal-bekal motivasi, keberanian, kebijaksanaan dan keterampilan. Hal-hal ini insya Allah akan didapatkannya di dalam proses tarbiyah yang intensif.  Di sini muslimah akan  mampu memerankan dirinya sebagi agent of change (agen perubahan) ke  arah yang lebih baik, tanpa mengorbankan prinsip yang kebenaran yang telah diyakininya. Sesuai dengan istilah Yahtalituuna walakin yatamayazun.
Secara umum, masyarakat yang melingkupi kehidupan muslimah sekarang ini, masih jauh dari nilai-nilai kebenaran. Berbagai fenomena menunjukkan betapa manusia masih diperbudak oleh makhluk dan hawa nafsunya. Lihatlah, betapa banyak wanita-wanita yang notabene seorang muslim, tampil dengan  pakaian yang minim, betapa banyak remaja yang berbeda jenis bergaul tanpa batas. Lihat pula gerombolan ibu-ibu yang lebih suka bergosip dengan sesama tanpa merasa bersalah. Lihat pula betapa banyak ibu-ibu dari kalangan menengah ke atas lebih senang berburu perhiasan dan perabot rumah yang harganya berlipat-lipat dari gaji seorang guru. Semua fenomena tersebut membutuhkan perhatian yang serius dan kerja keras dari para muslimah yang terbina untuk mengembalikan masyarakat  kepada fitrahnya yang hanif dan cinta kebenaran.
Salah satu hadits Rasul SAW yang dapat di jadikan pedoman dalam merekayasa masyarakat adalah hadits yang artinya :
“Barang siapa yang  melihat  kemungkaran, maka cegahlah dengan tangannya, kalau dia tidak mampu, maka cegahlah dengan lisannya, dan kalau dia tidak mampu juga, maka cegahlah dengan hati. Dan itulah selemah-lemah iman.”
Jika seorang muslimah sudah tidak ada kepekaan dan kepedulian sama sekali melihat kemungkaran dan permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat, maka ia dipertanyakan keimanannya.  Selain itu, Allah juga mengingatkan kita di dalam firman Allah pada surat al Anfal ayat 25:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al Anfal: 25)
Ayat ini  seharusnya menjadi penyemangat bagi para muslimah untuk senantiasa proaktif dalam menyeru masyarakat nya kepada kebaikan, sehingga akan jauh dari Azab atau siksa Allah. Di dalam aktivitas tarbiyah, muslimah akan mendapatkan banyak motivasi untuk selalu berbuat, berjuang dan melakukan banyak hal. Maka tarbiyah bagi muslimah adalah suatu yang tidak dapat dipisahkan dari dirinya.
Sumber : dakwatuna
Read More...

Revolusi Jilbab

2 comments
Revolusi JilbabAku seorang anak dari seorang ibu yang berpaham islam tradisional dan ayah seorang katolik. Perkawinannya membawaku kepangkuan islam. Jelas aku dididik dengan cara ibu. Aku dan adik-adik diharuskan shalat 5 waktu. Saat SMP aku belajar bersosialisasi dengan memasuki Karang Taruna. Lepas SMP aku memasuki sekolah kejuruan 1985. Tak kusia-siakan waktu, aku mengikuti kegiatan drama dan Rohis. Aktivitas dipengajian membuat ortu senang, karena aku sebagai anak sulung harus dapat menjadi contoh.

Tanda-tanda keanehan demikian ortu memandang penampilanku dengan baju lengan panjang,rok panjang, dan jilbab. Sebenarnya meraka Cuma kaget karena hal ini identik dengan tradisi keluarga ibuku yang dekat dengan budaya pesantren. Hal ini aneh, bahkan ditentang oleh sekolahku yang milik pemerintah dan mereka menentang siswinya berjilbab.  Ayah menggugahku dengan jiwa nasionalisme ala ABRI. “Kamu itu hidup disuatu Negara, punya peraturan dan harus diikuti. Kalau tidak taat, kamu melawan pemerintah secara langsung.”katanya. “Aduh, ayah kalo gitu gimana posisi manusia dengan hokum Allah. Padahal kita hidup dibumi Allah. Gimana logikanya,yah? Berarti kita menentang Allah,dong?

Pasca jilbab aku dan ayah sering dalam diskusi yang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap perubahanku.
“Kamu anak ABRI, kalau tidak taat pada sekolah, silahkan keluar cari sekolah lain!”
“Iya, saya siap.”tantangku
“Kalau kamu keluar, bapak tidak akan membiayai sekolahmu.”
“Saya tidak akan meminta sepeserpun dari bapak,” jawabku dengan berani

Astagfirullah aku berani menentang seorang laki-laki yang menjadi ayahku. Begitu beraninya! Tapi aku yakin, aku benar dan ayah, benar dengan jiwa nasionalismenya. Bukankah aku belajar agama untuk memperbaiki akhlaq? Tetapi semangat keislaman dan penentangan dari ayah membuat kami bermusuhan. Sementara itu, ibu mencoba memahami cara ibadahku dengan yang ia ajarkan sejak kecil. “Kamu sudah besar, kamu yang menanggung sendiri segalanya.”katanya

Sikap “bermusuhan” juga dilakukan oleh lingkungan rumahku. Alhamdulillah pengajian di Rohis menjadi santapan rutin yang menguatkan semangatku. Walau aku sudah berjilbab, aku belum mengaji. Teman-teman ikhwan disekolah memperhatikan hal itu. Kami janjian dikantin.  Ia mengajakku ikut dauroh (pelatihan). Aku dan temanku menunggun ikhwan yang mengantar kami ke masjid Al-azhar agar kami berkumpul dengan sesame akhwat. Ia datang , kamipun berjalan. Aku dan temanku menggerutu,” Kok dia ngajak tapi  kita ditinggal?” Kami memutuskan balik ke sekolah lagi. Saat ikhwan melihat kebelakang, kami sudah lenyap. Ia menyusul kami kembali. “Kakak sih, kami ikutin kakak tapi kakak jalan duluan.”sambut kami kepadanya. Kami ingin jalan berengan. Ternyata aku mendapat pelajaran baru bahwa islam membatasi pergaulan laki-laki dan perempuan seperti Nabi Musa dengan dua putrid Nabi Syu’aib.

Langkah kedepan yang spektakuler aku tempuh, aku mengadakan halaqah(pengajian) dirumah. Ikhwan yang datang langsung dipanggil bapak. Aku berdialog dengan bapak tentang kekafiran mengingat kakek bapak beragama nasrani.

“Kamu menganggap mbahmu kafirkan?”serang bapak
“Emang.” Kataku enteng
“jadi masuk neraka” serangnya lagi
“Iya.” Jawabku dengan yakin
“Jadi kamu tega mbahmu masuk neraka?”katanya

Dialog-dialog tersebut selalu menyudutkan posisi ayah. Dialog itu berubah menjadi meninggi. Puncaknya ayah tidak bisa menguasai emosinya dan mengusirku. Aku siap dengan tantangan itu. Subhanallah, ibu selalu membelaku dan tidak menerima kata-kata ayah. Ia menangisi kepergianku. Aku.. apakah harus pergi? Kulihat ibuku tetap menangis. Ku dengar dalam isaknya ia berbicara pada ayah,” Bagaimanapun ia anakmu!” Ayah gusar dan suaranya meninggi,” Buat apa kalau anak menyimpang dari bapaknya, kita kan makan dari pemerintah, kenapa kita menentang pemerintah?”Ibu menghampiriku,”Sudahlah kamu itu harus paham, bapak tidak begitu paham dengan agamanya. Kalau bapak ngajak dialog, kamu pergi saja.!” Akhirnya aku tetap dirumah, hubunganku sedikit retak dengan ayah.

Penentangan jilbab terutama disekolahku. Mereka memperbolehkan jilbab disekolah tapi tidak dikelas.  Aku dan kakak kelas sebelumnya melakukan bongkar pasang. Jumlah jilbaber semakin bertambah banyak. Sekolah mengeluarkan peraturan untuk menekan jumlah dengan harus melepas jilbab dari depan gerbang. Kami membandel dengan membukanya di mushala. Kepergok guru, ya diperingatkan dan disuruh buka. Kepergok satpam, ini bahaya sebab ada satu satpam yang tidak berperijilbaban. Kami diseret keluar gerbang. “Iih mana toleransinya,pak?”

Saat pulang, dari gerbang pula mulai memakai jilbab. Aku dan teman mencoba memakainya dari kelas. Sampai dibawah kami bertemu dengan ibu guru,” Eh kamu tunggu dulu!”  Kami nyengir dan mempercepat jalan. Ibu gurupun terus mengejar ke gerbang, ke jalanan, ke terminal blok-M. Pak satpam yang baik membiarkan kami melewati gerbang sekolah dan saat melewati dinas kapolri, pengawalnya menggoda kami,”Ayo  dikerjar tuh, ayo…ayo lari!” Ibu guru separuh baya itu terus mengejar kami. Tanpa melihat nomor metromini kami langsung naik, save by the bus.  Ibu itu mengacungkan tangannya kearah kami. Masya Allah ibu kuat sekali, sampe kami ngos-ngosan.

Kami dan sekokah masih dalam gencatan senjata. Kakak kelas berusaha berdialog tapi tidak mencapai titik temu. Kami harus tetap bongkar pasang di gerbang. Kami memutuskan keluar, apalagi ada ikhwan yang men-drop dana untuk biaya  sekolah kami.  Satu hal yang kupelajari bahwa keputusan itu harus dilihat dari berbagai segi pertimbangan.  Siapa yang berdakwah disini kalau semuanya keluar? Akhirnya kami tetap disini dan membuktikan kami bisa berprestasi.

Alhamdulillah posisiku dikelas membua teman-teman mau membantu. Kami bergaul baik dan membatasi diri bergaul dengan teman laki-laki.  Rambut kami dikuncir dan diriap bagi yang pendek. Istirahat kami berkumpul di mushala merapikan diri. Pernah kejadian, seorang akhwat diisengi oleh anak laki-laki. Ia mengatakan,” Bego banget sih, rambut bagus-bagus diumpetin!”  Yang rambutnya terpegang juga ada, akhwat itu marah-marah.

“Jangan dipengang, inikan aurat” katanya dengan marah
“Itu kan bukan aurat, dipegang ga berdarah.” Balas temanku itu
“Kalau ga berdarah kenapa kamu ga pegang gigi saya saja?”

Oala, benar juga kenapa? Perempuan dengan rambut memiliki daya tarik tersendiri bagi laki-laki. Subhanallah Allah telah memuliakan kami dengan jilbab. “Kuatkan kami, ya Allah . Untuk selalu dijalanMu.”

Berislam harus kaaffah(menyeluruh) tapi masya Allah itu sulit sekali. Keaktifanku di Rohis tidak menyurutkan teman-teman drama. Saat perpisahan kelas 3 aku diajak untuk menyumbangkan suara dalam sebuah lakon. Usai tampil, kakak ikhwan sudah menunggu didepan pintu.  “Akhwat ga boleh tampil,suara yang tampil……, saya tau itu suara kamu.”ucapnya dengan marah.  “Norak banget sih, kan orangnya ga keliatan?” balasku dalam hati. Astagfirullah, aku mencoba membenarkan diriku. Alhamdulillah, aku tak menyangka ukhuwah dalam islam berarti benar-benar meluruskan teman yang mulai bengkok. Tak pernah kutemui lagi ikhwan-ikhwan yang tanpa pamrih mengingatkan adik-adik kelasnya. Dan kami akhwat tidak ge-er karena kakak ikhwan memperhatikan kami sama baiknya.

Kurenungi semua tindakan teman-temanku, guru, ortu yang awalnya mereka semua antipati.  Subhanallah mereka berubah menjadi simpati, karena siswi berjilbab dari tahun ke tahun tidak pernah lenyap. Adik-adikku satu persatu mengikuti langkahku. Ayah sudah mulai menerima pemahamanku bahkan sekarang sudah mulai menunaikan shalat. Si Bungsu yang masuk pesantren mengatakan,” Tidak mau pulang kerumah kalau bapak belum shalat.” Ia sedih karena orang yang tidak shalat akan masuk neraka. Bapak mengabulkan permintaannya. Alhamdulillah, Jangan kau bolak-balikkan hati kami setelah kami mendapatkan hidayah-Mu. Itu yang aku inginkan dalam hidup ini.

Sumber : Buku putih “Revolusi Jilbab” . Kasus pelarangan jilbab di SMA Negeri Se-Jabotabek, 1982-1991

Read More...

Kisah Muslimah Yang Paling Mulia Maharnya

Leave a Comment

Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang wanita  yang cantik, cerdas dan berakhlak mulia. Dialah Ummu Sulaim yang bernama lengkap Ruimasha' Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Hiram bin Jundab bin 'Amir bin Ghanam bin 'Adie bin an-Najaar al-Anshariyah al-Khazrajiyah.
Berkat sifat-sifat yang agung,  Ummu Sulaim dilamar Maalik Ibnu Nadhar. Buah pernikahan keduanya lahirlah seorang anak bernama Anas. Ummu Sulaim termasuk orang yang masuk Islam dari kalangan Anshar.  Dengan penuh keyakinan, Ummu Sulaim tanpa ragu meninggalkan kebiasaan orang Jahiliyah dari menyembah berhala.
Tak mudah bagi Ummu Sulaim untuk memeluk Islam, agama yang paling benar dan diridhai Allah SWT. Suaminya adalah orang yang pertam menghadang laju keimanannya. Maalik sangat marah begitu isterinya telah masuk Islam. "Apakah engkau telah musyrik?" Ummu Sulaim menjawab dengan penuh keyakinan dan keteguhan, "Aku tidak musyrik tetapi aku telah beriman".
Ummu Sulaim membimbing anaknya, Anas untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, "Katakanlah Laa Ilaaha Illallah, dan katakanlah Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah." Lalu Anas melakukannya. Melihat keadaan itu, Maalik berkata kepada Ummu Sulaim: "Janganlah merusak anakku".
Ummu Sulaim berkata, "Sesungguhnya aku tidak merusaknya akan tetapi aku mengajari dan membimbingnya."  Suatu ketika, Maalik pergi menuju Syam. Di dalam perjalanannya ia bertemu dengan musuhnya. dan  mati terbunuh. Mendengar kematian suaminya, ia  berkata, "Aku tidak akan memberi Anas makanan sampai ia meninggalkan musim susuku (ASI)."
Ia kemudian berkata lagi, "Aku tidak akan menikah sampai Anas dewasa.'' Kebaikan Ummu Sulaim diungkapkan Anas bin Maalik pada sebuah majelis, "Semoga Allah membalas jasa baik ibuku yang telah berbuat baik padaku dan telah menjagaku dengan baik." Ummu Sulain menyerahkan si jantung hatinya, Anas, sebagai pelayan di sisi seorang pengajar manusia dengan segala kebaikan, yakni Rasulullah SAW.
Lalu Rasulullah menyambutnya hingga sejuklah kedua mata Ummu Sulaim. Hari terus berganti. Orang-orang pun memperbincangkan Anas bin Malik dan ibunya dengan penuh kekaguman dan penghormatan. Kemuliaan dan kebaikan Ummu Sulaim terdengar di telinga Abu Thalhah, seorang hartawan di zaman itu.
Dengan  penuh cinta dan kekaguman sehingga ia berusaha untuk meminang Ummu Sulaim. Abu Thalhah pun melamar Ummu Sulaim dengan mahar yang mahal sekali. Namun, lamaran itu ditolak Ummu Sulaim.  "Tidak sepantasnya aku menikah dengan seorang musyrik. Tidakkah engkau mengetahui wahai Abu Thalhah, bahwa sesembahan kalian itu diukir oleh seorang hamba dari keluarga si Fulan. Sesungguhnya bila kalian menyalakan api padanya pastilah api itu akan membakarnya."
Terasa sempitlah dada Thalhah. Ia pun pergi dan hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar. Namun cintanya yang tulus  membuat Thalhah  kembali datang  dengan mahar yang paling istimewa.  Dengan harapan Ummu Sulaim bisa  luluh dan mau menerimanya.
Sebagai da'iah yang cerdas, Ummu Sulaim tak silau dengan harta, kehormatan, dan kegagahan. Lalu ia berkata  dengan santun, "Tidak pantas orang yang sepertimu akan ditolak wahai Abu Thalhah. Akan tetapi engkau seorang kafir sedang aku seorang Muslimah yang tidak pantas bagiku untuk menikah denganmu."
Lalu Abu Thalhah berkata, "Itu bukan kebiasaanmu." Ummu Sulaim berkata, "Apa kebiasaanku?" Ia berkata, "Emas dan perak." Ummu Sulaim menjawab,"Sesungguhnya aku tidak menginginkan emas dan perak, akan tetapi aku hanya inginkan darimu adalah 'Islam'."
Abu Thalhah lalu berkata, "Siapakah orang yang akan membimbingku untuk hal itu?" Ummu Sulaim berkata, "Yang akan mengenalkan hal itu adalah Rasulullah SAW." Pergilah Abu Thalhah menemui Nabi SAW. Ketika itu Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabatnya.
Saat melihat Abu Thalhah, Nabi SAW bersabda, "Telah datang kepada kalian Abu Thalhah yang nampak dari kedua bola matanya semangat keislaman." Lalu Abu Thalhah datang dan mengabarkan apa yang telah dikatakan oleh Ummu Sulaim terhadapnya. Abu Thalhah pun ahkhirnya menikahi Ummu Sulaim dengan mahar yang telah dipersyaratkannya, yakni Islam.
Tsabit seorang perawi hadits berkata, dari Anas RA, "Tidaklah aku mendengar ada seorang wanita yang lebih mulia maharnya dari pada Ummu Sulaim yang mana maharnya adalah al-Islam."
Sumber Artikel : 
Read More...