Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Ustadz Kok Nipu?

Leave a Comment
Assalamu'alaikum! Wahhh.... Alhamdulillah, senang sekali rasanya bisa berjumpa lagi dengan sobat IKRAR.

Posting kali ini hanya sekedar intermezzo saja untuk sobat IKRAR semua, dan tentu saja mengandung hikmah yang dapat sobat ambil sebagai pelajaran. Penasaran? Yuk, mulai mambaca! :)




Read More...

Cakrawala Dunia

Leave a Comment
Kuraba cakrawala dunia 

Kuhirup aromanya

  Matapun terpejam



Ah, apalah dayaku!

Berjalan dalam kegelapan 

Tanpa kompas-Mu



Tersesat dalam ragu

Ketika futur menjelma

Menyanyikan lagu nan syahdu

Iramanya menerbangkan jiwa



Dalam sepi...

Ku coba telusuri kata demi kata

Hingga kufahami arti surat cinta

Dari Kekasih sejati



Sungguh ketika cinta merasuk 

Bait demi bait dalam surat-Mu

Menggetarkan jiwa dan raga



Ku telusuri samudra cinta-Mu

Gelombang tak hentinya menghadang

Sampailah jua di dermaga cinta



Kini...

Ku insyafi diri

Dan membuka mata

Tuk menggapai kasih putih-Mu 
Created by : Yuni_SMA N 14
Read More...

Cinta

Leave a Comment
Cinta,

Cinta adalah sebuah anugrah

Cinta yang murni

Hadiah dari Ilahi

Karena cinta,kita dapat saling mengasihi

Dan saling menghargai

Betapa indahnya cinta

Jika ku dapat mencintai-Nya

Melebihi apapun

Ku berharap,ku dapat merasai keindahan itu

Walau sehina apapun diriku


Created : Yuni
Read More...

Berubah

Leave a Comment
Berubah
Tak disangka kau telah berubah
Kau mulai menjauh

Jauh...
Jauh disana,
Untaian kata yang ingin ku sampaikan

Tapi..
Kau seolah, menjauhiku
Perlahan namun pasti

Apalah artiku untukmu
Aku tak ubahnya
Bagaikan periuk nasi usang
Yang tak ada artinya lagi

Ku beri bunga nan indah
Tapi kau menginjak-injak pemberianku

Apalah dayaku
Seolah-olah aku merasa tertipu
Oleh persahabatan palsu darimu

Biarlah kini lara menyambut duka
Dan suka pergi dengan kebahagiaan

Created by Yuni_SMA 14
Read More...

Aku Akan Pergi

Leave a Comment
Puisi bagaikan alunan melodi
Disini kubernyanyi
Melalui hembusan syair-syair hati

Tapi ku mau puisi ini
Ku rajut persahabatan nan suci
Agar terkenang oleh sahabat sejati

Tapi seolah ku tak mengerti
Apa maksud hati
Saat ku bertanya pada diri
Kapankah aku kan pergi dan tak kembali
Tuk bertemu sang penyejuk hati

Tapi ingatlah aku akan pergi
Yah, pergi ke negri nan abadi
Tuk menyalakan lilin persahabatan ini
Agar kalian bertemu denganku kembali

Sungguh jika dirasa sangatlah berat
Namun,sebentar lagi saatnya akan tiba
Tuk berpisah dari negeri fana
Yang penuh kefatamorganaan

Di detik hari hariku
Bukanlah derai air mata kuharapkan
Tak jua penyesalan
Namun,cinta suci persahabatan
Yang dapat memberiku senyuman
Itulah yang kubutuhkan
Di penghujung hidupku


Read More...

❤ ❤ ❤ Kenangan Cinta Kita ❤ ❤ ❤

Leave a Comment
Sore itu, ku teringat akan kenangan cinta kita. Dimana tiada hari yang kelabu, melainkan indah bagaikan pelangi disore hari. Huh..Tak terasa semilir angin senja membisikkanku sesuatu, hingga membuatku terbuai dalam kenangan itu. Inikah yang dinamakan cinta atau aku hanyalah mengada-ngada belaka? Ah, sulit! Sungguh sulit tuk mengatakan maupun merasakannya. Tapi entah mengapa hati yang dulu membeku bagaikan es kini mulai mencair. Hmm…mungkinkah ini efek dari rasa itu?

Yah, cinta telah mengubah segalanya, tapi ini merupakan cinta suci nan tulus teruntuk yang kucintai karena-Nya. Di awal perjumpaan, aku merasakan kobaran api cinta yang membara. Perlahan namun pasti, yah begitulah kisah cinta kami hingga kini cinta itu masih bersemi ditaman hati yang didalamnya ada sungai-sungai kerinduan yang dapat menyejukkan dahaga kita.

Tak terasa 2 tahun sudah perpisahan kita, mungkin itulah yang dinamakan bertemu dan berpisah karena-Nya. Wahai yang kucintai karena-Nya, biarkanlah aku berbagi sedikit warna warni cinta kita kepada teman-teman.Jika saja kamu tau, wahai yang kucintai karena-Nya....Awalnya aku masih dalam lembah kegelapan, tapi Allah berkehendak lain. Dia telah mempertemukan kita, sehingga aku merasakan indahnya cahaya-Nya.

Jujur,
aku belum pernah menemukan kehangatan ini, sebelum aku bertemu dengan kau...wahai orang yang kucintai karena-Nya...Walau kini kita tak lagi bersama dalam lingkaran kasih, namun jagalah cinta kita tuk tetap ada.
Tetaplah tuk merajut benang benang cinta menjadi kain ukhuwah yang menghangatkan raga.
Huh...jika saja kau mengerti maksud hati ini, hatiku tak sanggup tuk tersayat oleh ribuan pisau.

Karena.....
Diluar sana masih banyak saudara-saudari kita yang belum mengerti arti cinta sesungguhnya, mereka menyalah artikan cinta itu. Wahai yang kucintai karena-Nya...
Bangkitlah segera karena jalan dakwah ini begitu berliku dan terjal. Sungguh akupun tak kuasa menahan kepedihan ini.

Wahai yang kucintai karena-Nya...
Mungkin ini sebutir mutiara dariku di dinginnya malam...
Insya Allah kan ku lanjutkan cerita cinta kita....

**********
# Salam ukhuwah penuh kasih dan cinta
Ana uhibbuki lillahi ta'ala...

☺☮ ☯ ☠ ♫ ❤ (。◕‿◕。) ツ ☆ εїз 

Untuk teman-teman 1 halaqah di mentoring SMP 81

Created by : Yuni_SMA 14
Read More...

Memahami Kesunyian di Hati

Leave a Comment
Ku berjalan tanpa arah yang pasti

Tapi ku terus berjalan tanpa henti

Ku tak mengerti mengapa seperti ini

Merasakan kesunyian dihati

Perlahan-lahan kucoba tuk memahami

Kesunyianku selama ini

Sehingga ku menyadari

Betapa sunyinya hati ini

Tanpa zikir pada-Mu....Ya Rabbii

Created by Husna (nama pena)
Read More...

Jika

Leave a Comment
Jika hati merasa gundah

Janganlah kau resah

Ingatlah selalu

Dia selalu bersamamu

Dia takkan pernah mengecewakanmu

Karena Dia Maha Tahu

Apa yang dibutuhkanmu

Dia adalah Kekasihmu dan Kekasihku

Created by Husna (nama pena)
Read More...

Ingatlah

Leave a Comment
Untaian kata menyejukkan qalbu

Syair-syair nan merdu

Sungguh terdengar syahdu

Dikala gulana merasuk jiwa

Dan duka menimpa dada

Ingatlah selalu Dia kan selalu ada

Tuk menemani kita

Created by Yuni_SMA N 14
Read More...

Gubuk Tua

Leave a Comment
Bermula dari kisah seorang remaja yang sedang mencari jati diri. Dia adalah Husna, perempuan yang kekanak-kanakan namun memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar. Di usianya yang ke- 12, ia mengikuti berbagai kegiatan sekolah seperti pengurus kelas dan aktif di di 6 ekskul (perkusi, ansambel, basket, bulutangkis, pramuka, dan teater). Tak terasa sudah hampir 2 bulan ia berada di SMP Bina Tunas Muda Tarakan, ia merasa ada hal yang kurang di dirinya. Entah angin apa yang telah membuatnya seperti itu, namun dibalik kesibukannya ia sejenak berfikir untuk apa semua itu. Apa yang dia lakukan sudah benar, tapi kenapa dia merasa belum menemukan jati dirinya. Di sela-sela kebingungannya, seorang gadis menghampirinya.

“Door!” teriak Gebi
“Uh, lo ngagetin gua aja sih!” Tukas Husna
“Haha…Abis, lu gua panggil ngga nengok-nengok. Oh ya sabtu temenin gua ke Aula yuk.” Jawab
“Ngapain? Gua ada latihan basket besok.”
“Hmm, gua denger-denger sih ada ekskul baru gituu. Nah mereka mau adain launchingnya di Aula. “
“Ooh, emang ekskul apaan sih?”
“ROHIS.”
“Ha? Apaan tuh?”
“Rohani Islam. Ayoo ikut yaa.”
“Ogah ah, paling itu cuman ngaji-ngaji ga jelas, dah gitu bakal ngebetein banget tuh acara! Lagian kan ROHIS itu sarang teroris, mau aja sih lo ikut-ikutan kayak gitu.”
“Ish…Ayooo laah, Husna. Lagian kan disana kita cuman nonton, games, sama training motivasi gituu. Pleaaasee, temenin gua dong, na.”
“Huft, ok,ok. “
“Hihi, gua tunggu besok jam 8 di depan Aula yah.”
“Iyaa, iya.”

Keesokan harinya, Husna dan Gebi menghadiri launching ROHIS. Disana ada banyak hal yang membuat dua gadis ini penasaran seperti kakak-kakak panitia yang perempuan mengenakan kerudung yang begitu panjang, pintu masuk perempuan dan laki-laki yang dipisah, pengemasan acara launching yang begitu pas dengan anak SMP, dan masih banyak lagi.
“Assalamu’alaikum say, mau ikut ekskul ROHIS ga?” tanya seorang wanita muda di meja registrasi
“Wa’alaikumussalam, wah maaf kak. Saya dah begitu sibuk sama ekskul-ekskul saya. Terus saya juga males yang namanya ngaji.”jawab Husna dengan nada datar
“Tak apa say, tapi sebaiknya kamu coba dulu aja ikutin minimal 1 kali pertemuan. Disini kita ga cuman belajar ilmu agama aja, kita juga bisa belajar pengetahuan umum, nonton, games, pokoknya seru deh.”kata wanita itu sambil tersenyum


Akhirnya Husna dan Gebi menjadi anggota ROHIS, disana mereka merasakan banyak hal yang belum pernah mereka dapatkan. Namun, Husna bukanlah tipe orang yang mudah diajak kebaikan seperti Gebi. Dia di ROHIS awalnya hanya ingin memenuhi ajakan Gebi dan penasaran dengan sikap murobbiah yang begitu sopan dan penuh senyum kepadanya padahal Husna selalu usil.

Tak terasa sudah 3 tahun ia di ROHIS dengan seorang murobbiah yang mengajarinya makna hidup, arti cinta sejati, serta betapa berharganya ilmu. Kemudian Husna melanjutkan studinya ke SMA Pelita Muda hanya karena ingin mentoring dengan Ka Muti. Disana ia merasa sedikit sedih karena ka Muti mengisi halaqah kelas XI, sementara kelas X dipegang kakak kelas XII. Selain itu, gedung SMA Pelita Muda yang sudah tua membuatnya semakin ragu untuk melanjutkan studinya disana. Apalah daya Husna, nasi telah menjadi bubur. Semua yang ia mau tak semulus yang ia harapkan. Ia juga malu kalau teman-teman SMPnya menanyakan dimana ia bersekolah.

“Janganlah lihat sesuatu dari kulitnya, lihatlah sampai kedaging dan bijinya. Memang gedung SMA ini udah tua, tapi bukan berarti SMA ini ga bisa menghasilkan lulusan terbaik. Banyak dari kakak kelas kita yang melanjutkan studi diluar negri dan beberapa PTN favorit.”ujar seorang kakak kelas saat MOPDB
SMA Pelita Muda adalah salah satu SMA unggulan dikota Tarakan, walaupun bukan sekolah islam tapi disinilah Husna mengenal Islam lebih dalam. Sejak awal MOPDB, seluruh siswa-siswi muslim diwajibkan mengikuti mentoring, solat duha di masjid, solat berjamaah, dan kenal teman-teman satu angkatan. Rohis bukanlah ekskul, namun sebuah program yang diwajibkan oleh pihak sekolah karena sekolah benar-benar memahami pentingnya keseimbangan antara IQ, ESQ, dan EQ. Sekolahpun percaya dengan adanya Rohis yang menjadi program resmi sekolah bisa menekan angka kenakalan remaja.
Husna pun semakin bersemangat mengikuti berbagai kegiatan maupun kepanitiaan di Rohis,OSIS, maupun ekskul disekolahnya. Sungguh, kini ia merasa begitu nyaman berada di “gubuk tua” karena disinilah ia mulai menemukan jati diri dan pendewasaan diri.
Tibalah saat dimana tongkat estafet dakwah SMA Pelita Muda bergulir ditangan Husna dan ia dikirim sebagai delegasi luar sekolahnya. Kini ia pun aktif di organisasi luar sekolah sebagai Ko.A Divisi Luar RTB (Rohis Tarakan Bangsa) yang menaungi Rohis-rohis se kota Tarakan.

Di RTB, Husna belajar banyak hal seperti mengerti sebelum dimengerti, menjadi lebih dewasa dalam menyelesaikan masalah, mengenal karakter orang lain, dan masih banyak lagi. Namun itu semua tidaklah terlepas dari berbagai lika-liku yang ia jalani selama di RTB karena pelaut yang handal dihasilkan oleh laut yang penuh gelombang dan badai.

Futur itu pasti pernah dialami dirinya, namun ia tak ingin berlarut-larut dalam kefuturan karena sesungguhnya futur dan keiklasan dalam beramal tergantung diri kita. Jika diri berkehendak futur dan tidak diisi dengan siraman ruhiyah serta pembekalan yang matang maka jadilah ia bagian orang-orang yang terseleksi oleh alam seperti teman-teman Husna di RTB.

Hingga suatu ketika ketua RTB mengalami futur selama hampir 3 bulan lamanya dan selama itu pula ia menjalankan amanah yang seharusnya sang ketua lakukan. Husna merasa gagal dalam mengemban amanahnya karena TQ (taqliful qulub) yang ia adakan selalu gagal. Disela-sela kesedihannya, terpancar cahaya harapan yang dimana ia selalu mendo’akan saudara-saudarinya agar kembali di RTB tuk sama-sama menjalankan amanah sampai habis dan ia selalu berdo’a agar Allah membalikkan hati sahabatnya ke jalan cinta-Nya.
           
Tiga bulan mendekati akhir amanah, lagi-lagi tekanan dan ujianpun silih berganti. Orang tua Husna menyuruhnya keluar dari RTB dan berbagai organisasi luar sekolah karena ia harus fokus membantu orang tuanya di kantor dan persiapan ujian akhir. Husna tak dapat menolak perintah orang tuanya. Ridhallah fii ridha walidain, su’thullah fii su’thu walidain. Yah, itulah yang sering diingatkan oleh gurunya disekolah. Meskipun Husna tak lagi di RTB, ia selalu berharap tuk dakwah yang lebih baik di ROHIS Pelita Bangsa dan RTB (Rohis Tarakan Bangsa).

Di hari perpisahannya dengan anak RTB, Ketua RTB tiba-tiba datang kesekolahnya dan ia mengatakan tidak jadi keluar dan tetap bersama-sama dijalan dakwah. Itulah roda kehidupan, mereka bertemu dan berpisah karena-Nya.

Read More...

Dialog Ikhwan (Sok) Stabil Dengan Ikhwan (Agak) Labil

Leave a Comment

Selepas shalat Zhuhur, para ikhwan tidak langsung beranjak dari masjid. Seperti biasa, mereka saling membentuk kelompok-kelompok kecil dan memperbincangkan banyak hal. Begitu pula yang kini dilakukan akh Simun dan akh Afik di pojok masjid.
“Assalamu’alaikum. Gimana kabarnya, Akhi?”
“Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah, akh. Tetap berseri sebagaimana mentari di pagi hari. By the way, ada apa nih, akh? Tumben-tumbennya mukanya kusut begitu.”
“Muka ane emang begini, akh.”
“Betul juga. Terus ada apa, akh?”
“Sebenarnya ane pengen minta tolong sama Ente.”
“Minta tolong apa? Sebagai saudara, ane pasti bantu kalau Ente punya masalah.”
“Ane pengen curhat. Sebetulnya bukan masalah ane, tapi masalah umat.”
“Owalah. Berat amat. Emang masalahnya apa?”
“Itu loh, sekarang saudara-saudara kita udah pada pindah jamaah!”
“Huaapaaa, yang boneenng? Eh, yang bener? Pindah gimana maksudnya?”
“Sekarang mereka jadi jamaah Facebookiyah.”
“Halah, kirain apaan.”
“Tapi ane serius, akh.”
“Muke lu jauh!”
“Ya sudahlah. Kok jadi ngomongin muka lagi sih, akh?”
“Betul juga.”
“Hm, begini. Sebagai ikhwan yang militan dan tak takut sama setan, ane cukup prihatin sama saudara-saudara kita itu.”
“Dan ane, sebagai ikhwan romantis yang optimis, cukup bingung dengan obrolan kita hari ini. Sebetulnya Antum mau ngomong apa sih, akh?”
“Bagaimana ane tidak kuatir. Makin hari saudara-saudara kita lebih aktif di dunia maya (Facebook) ketimbang hadir pada agenda-agenda di dunia nyata.”
“Ya mungkin mereka sibuk. Wajarlah, mereka kan para aktivis yang begitu padat akan agenda.”
“Kalau padat agenda, kok masih sempatnya Facebook-an?”
“Itu dia kehebatan mereka.”
“Ente masih ingat dengan wacana lama tentang Facebook buatan ‘Yahoo-di’?”
“Masih.”
“Bagaimana pendapat Ente saat itu?”
“Ane sih sah-sah saja ya. Meski dikabarkan sebagian besar keuntungan itu untuk pembiayaan perang melawan Palestina dan sebagainya, ane tetap stay cool dan nggak terlalu parno sama wacana itu. Toh, jika kita gunakan untuk dakwah akan sangat efektif dampaknya.”
“Yuups, sepakat ane dengan Ente.”
“Tapi mukanya biasa aja dong.”
“Tuh kan bahas muka lagi.”
“Betul juga.”
“Hm, waktu itu emang banyak saudara-saudara kita yang dilematis karena isu itu. Dan nggak sedikit yang akhirnya menutup akun Facebook mereka loh.”
“Ya bagus. Mungkin itu adalah tindakan preventif mereka dalam menghadapi yang syubhat tersebut.”
“Tapi bagi mereka yang berpandangan bahwa Facebook itu sangat potensial untuk dakwah, mereka akhirnya tetap menggunakan Facebook.”
“Betul. Bagaimanapun Facebook atau media sosial lainnya adalah sarana efektif dalam berdakwah. Coba bayangkan, kalau kita punya teman di Facebook itu ada 2000 orang, dan semuanya merasakan sentuhan dakwah kita. Wuih, mantap dah tuh. Jadi MLP!”
“Apaan tuh MLP?”
“Multi Level Pahala. Hehe.”
“Memang! Apalagi sekarang juga ada Twitter, di mana kalau kita nge-twet sekali, itu akan tersebar ke seluruh teman-teman yang follow kita. Kalau yang follow kita ada satu juta orang, terus kita nge-twet tentang suatu kebaikan, sebanyak itu pula yang mendapat manfaat dari kita.”
“Luar biasa, ya. Marketing dakwah yang efektif.”
“Memang.”
“Omong-omong, Ente punya akun Twitter?”
“Enggak.”
“Yee… jangan ngomong kalo gitu.”
“Abis ane nggak ngerti cara pakainya sih. Hehe.”
“Gaul dong makanya.”
“Ente punya?”
“Enggak.”
“Yee, ‘kaburomaqtan’ juga Ente…”
“By the way, kalau diperhatikan sekarang-sekarang ini malah banyak dari saudara-saudara kita yang sudah tidak membawa semangat tersebut.”
“Semangat apa?”
“Ya semangat ber-Facebook untuk dakwah itu.”
“Ooh…”
“Kok cuma ‘Ooh’?”
“Itu semua memang kembali kepada motif kenapa mereka punya Facebook.”
“Nah, itu dia. Kalau ane tanya, Ente punya Facebook buat apa?”
“Kebutuhan diri, eksistensi.”
“Sebetulnya kalau untuk eksistensi, kurang tepat juga Ente pilih Facebook. Toh ane yakin, teman-teman Ente di Facebook adalah teman-teman Ente di kampus juga kan? Setiap hari ketemu di kampus, kenapa juga punya Facebook?”
“Betul juga. Tapi bagaimana kalau mau komunikasi saat nggak ketemu di kampus?”
“Kan bisa lewat HP atau email. Atau kalau mau lebih kongkret, ya jauhlah aja. Datengin tuh rumahnya.”
“Betul juga. Kalau Ente punya Facebook kenapa?”
“Untuk berbaur dengan teman-teman, dong. Agar tidak eksklusif. Dakwah itu kan tidak boleh eksklusif.”
“Memang, tapi saking eksklusifnya, jangan sampai jadi alay. Ane perhatikan isi status saudara-saudara kita begitu. Kalau yang ikhwan, paling nggak jauh tentang akhwat atau kebelet nikah melulu. Kalau akhwat, ya paling curhat abis makan ini, abis kerjain itu, abis mikirin anu, abis ngurusin ono. Macem-macem dah tingkahnya.”
“Oh, begitu ya? Hehe. Hm, kalau soal akhwat itu lain, akh. Itu adalah sebuah azzam yang memang harus kita niatkan sejak dini.”
“Azzam sih azzam. Tapi salah tempat, akh. ‘Afwan nih ya, nikah itu bukan untuk dibicarakan, tapi disiapkan! Kalau udah siap, gak usah banyak omong, langsung khitbah dong.”
“Belum pede kali, akh. Hehe.”
“Kalau inklusif disalahartikan, jadinya malah bisa kebablasan, akh. Yang ane kuatirkan adalah, kalau begini terus, izzah Islam malah jadi taruhannya. Setiap online, saudara-saudara kita actionnya nggak penting melulu, seperti curhat, ngomongin hal-hal yang sebetulnya tidak untuk dipublikasikan, atau bahkan berujung pada pembukaan aib sendiri atau aib orang lain.”
“Mungkin menurut Ente nggak penting, tapi bagi mereka itu penting, akh.”
“Hm, ane maklum, akh. Itu memang wajar kalau sebagai manusia ingin diperhatikan. Tapi ini juga soal umat, akh. Mereka butuh contoh atau keteladanan. Kalau kita-kita, yang notabene aktivis dakwah malah kurang bisa jadi contoh dan kurang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, lantas apa bedanya kita yang sudah tarbiyah dengan mereka yang belum tarbiyah?”
“Wah, muka Ente serius banget, akh.”
“Tuh kan muka lagi.”
“Betul juga. Terus, menurut Ente bagaimana?”
“Punya Facebook, kalau nggak untuk dakwah, mendingan nggak usah!”
“Mantap! Ane suka nih ikhwan yang kaya begini.”
“Idiih…”
“Enak aja. Ane normal, akh. Tapi bener kata Ente, ane jadi ingat kata ustadz yang mengutip perkataan Imam Syafi’i.”
“Yang kaya gimana tuh?”
“Tapi ane lupa, akh.”
“Diingat-ingat, dong.”
“Tunggu, biar ane coba ingat-ingat dulu…”
“……”
“Aha! Ane tahu, akh!”
“Nah gitu dong, jadi apa?”
“Ane tahu kalau ane belum ingat, akh.”
“*&*&#$%#@!”
“Tapi secara garis besarnya ane tahu, akh.”
“Buruan deh, sebelum muka ane jadi nggak enak nih.”
“Kalau muka Ente mah emang udah dari tadi…”
“Buruan!”
“Jadi kurang lebih begini: Andai kata Al-Qur’an itu hanya berisi surat Al-‘Ashr, maka sesungguhnya surat Al-’Ashr telah cukup menjadi pedoman seluruh manusia untuk selamat dalam hidup ini.”
“Nah, itu dia. Begitu pula dengan ber-Facebook. Kalau digunakan tidak untuk hal yang bermanfaat, jadinya kita malah merugi deh.”
“Iya, sudah rugi waktu, tenaga, pikiran, biaya, dan jelas itu juga merugikan orang lain.”
“Kok bisa merugikan orang lain?”
“Secara umum, orang lain jadi rugi karena capek-capek baca hal-hal yang nggak penting dari kita. Lalu orang tua juga jadi rugi, karena listrik di rumah dan uang yang kita pegang itu kan masih pemberian orang tua. Eh kita buat yang begituan. Sayang banget.”
“Tumben Ente bijak, akh.”
“Dari dulu kali.”
“Eh, by the way, jam berapa sekarang, akh?”
“Hm, jam 13.58 WIB. Kenapa? Ente ada kelas lagi?”
“Iya, ane ada kelas Metodologi Penelitian. Dosennya disiplin. Ane nggak boleh telat, akh. Yaudah, ane pamit dulu ya. Syukron nih udah nemenin ngobrol.”
“Iya, akh. ‘Afwan. Sukses ya! Lain kali kita ngobrol lagi. Ok?”
“Siip. Wassalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumussalam.”
Hening. Angin sesekali bergerak mengusir panas kala itu. Sebagian mahasiswa di masjid ada yang pergi, kemudian ada yang datang kembali. Sementara geliat kampus masih seperti sedia kala, hingga turut membawa senja tiba. Akh Afik, yang kala itu sedang di warnet, membuka Facebook-nya dan tiba-tiba mendapati status terbaru akh Simun: Dosen met-lit galak banget sih! Masa telat semenit nggak boleh masuk!?
Akh Afik hanya tersenyum melihat tingkah saudaranya yang satu itu. Kemudian ia gerakkan jarinya dan menulis sebuah status yang entah ia tujukan kepada siapa: Sebentar begini, sebentar begitu, dasar ikhwan labil!
Sumber: Dakwatuna
Read More...

Mawar Bersemi

Leave a Comment



Ketika mawar bersemi didalam taman cinta
Wahai pemuda,
Hati-hatilah tertusuk olehnya

Cinta itu bagai pisau bermata dua
Sisi pertama, menghangatkan jiwa
Itulah cinta lillahi ta'ala
Namun, sisi yang lainnya
Mengubah indahnya mentari menjadi awan senja
Itulah cinta yg dilandasi nafsu belaka
Terlihat indah oleh mata
Namun tak seindah aslinya
Karena itu, hanyalah fatamorgana

Cinta pd-Mu Oh Robbi
Kan membuat kami tenggelam
Ke Lautan cinta nan hakiki
dan Cahaya cinta-Mu pun takkan padam
di dalam hati ini

Mencintai seseorang bukanlah apa-apa
Dicintai orang adalah utama
Dicintai oleh orang yang dicinta, sangatlah bermakna
Namun, dicintai oleh sang Pemilik Cinta adalah segala-galanya

Sumber Artikel :
Hamba Allah dari SMA N 14

Read More...

Lelah

Leave a Comment
Tiada kata lelah

Bagi mujahid mujahidah

Tuk berdakwah

Niat ikhlas lillah

Selalu menyertai setiap langkah

Tak peduli keringat dan darah

Selalu tercurah

Tapi kalian tiada pernah

Henti-hentinya berdakwah



Sumber Artikel :

Read More...

Dahaga Asmara

Leave a Comment

Sebuah cinta yang tak terobati dapat menambah rasa dahaga setiap hati, yah begitulah yang dirasakan Husna. Dia adalah gadis belia yang sedang merasakan indahnya cinta.

Tapi, ini bukanlah sembarang cinta.Karena cinta yang dimiliki Husna bagaikan sebuah kutub bumi,walau berjauhan tapi memiliki daya tarik kuat bahkan melebihi itu.Dahaga asmara yang menggelora ini tak dapat lagi ia sembunyikan,tapi Husna merasa bingung,karena ia semakin terbakar didalam api cinta.

Di sore hari setelah pulang exkul, tak seperti biasanya Latif (teman sekelas Husna) berdiri didepan gerbang pintu sekolah. Tidak lama ia menunggu, seorang gadis anggun parasnya bagaikan mutiara dalam tiram keluar menuju gerbang sekolah. Ia adalah Husna, gadis pujaan hati Latif.

“ Husna, udah selese exkul ya?” tanya Latif

“Udah, kok. Oh ya, udah sore nih, aku pulang dulu ya.” jawab Husna

“Tu..tunggu dulu, soalnya gw mau ngomong sesuatu ama lo.”desak Latif

“Apaan, tif? Kayaknya penting banget?” tanya Husna bingung.

“I..ini, ehmm mending, kita ngomongnya berdua aja dibawah pohon itu.”pinta Latif

“Ha? Ga ah, tar kalo kekasih aku liat, dia bakal cemburu abis, dah aku pulang kerumah duluan ya, kalo yang mau kamu omongin itu penting banget, mending jangan berdua doang ngomongnya,ajakin temenmu biar kekasih aku ga jealous.Maap banget ya,Latif.”jawab Husna seraya keluar gerbang dengan tergesa-gesa.

Hati Latif begitu hancur,ternyata sebelum ia mengungkapkan perasaannya, ia telah didahului seseorang. Sejak kejadian itu, Latif menjadi siswa pendiam dikelasnya dan prestasinya dikelas semakin menurun belakangan ini.Suatu ketika Latif sedang meluapkan seluruh kekecewaannya didalam sebuah buku.

“Cinta itu bagaikan pisau bermata dua, disatu sisi ia dapat merubah hati yang kelabu menjadi penuh warna.Tapi kini ,hatiku tertusuk oleh sisinya yang lain, sisi itu telah merubah hari-hariku tak berarti lagi.Mengapa ia tak memilihku, padahal aku lebih baik dari orang yang ia cinta.”

Tiba-tiba ia terdiam dan mendengarkan percakapan Husna dan Ira dibelakangnya.

“Husna kenapa sih kamu ga pernah mau pacaran,padahalkan anak usia kayak kita tuh butuh banget, malah itu bukan lagi kebutuhan tapi kewajiban.”tanya Ira  

“Aneh,kamu ra.”jawab Husna

“Aneh?Aneh kenapa? Husna, tau ga sih, kamu tuh pinter, baek terus cantik lagi. Coba hati kamu tuh mau dengerin omongan aku, buat pacaran. Pasti deh, cowo mana siiih yang ga mau jadi pacar kamu.”jelas Ira

“Uhm, bagi aku tuh ya, pacaran ga guna, itu malah jadi beban, lagian kalo pacaran dah dianggap sebuah kewajiban, itu mah bukan jalan aku. Aku ga butuh cowo pengecut, yang cuman berani ajak aku jadian terus jadi cewenya. Aku cuman butuh cowo sejati, lagian aku ga mau ada yang cemburu. Dia selalu ngertiin apa aja yang aku butuhin ama yang aku rasain sekarang.Dia itu spesial.”jawab Husna

“Dia? Dia siapa?”tanya Ira bingung.

“Dia itu adalah Allah, sang pemilik cinta. Ia ga pernah rela liat kita kesusahan, Dia selalu bikin aku semangat buat ngelakuin apa-apa. Makanya aku ga mau pacaran, karena takut Dia cemburu ama aku, Dia itu special banget dihatiku,ra.” jawab Husna

Setelah mendengar ucapan mereka, tiba-tiba terlintas didalam benak Latif untuk melanjutkan tulisannya di sebuah buku.

“Mencintai seseorang bukanlah apa-apa.Dicintai oleh orang lain adalah hal spesial. Dicintai orang yang dicinta sangatlah berarti, tapi dicintai oleh Sang Pemilik Cinta adalah segala-galanya.Husna, bidadariku betapa mulianya hatimu. Cintamu pada-Nya bukanlah cinta semu atau mendayu-dayu. Cintamu pada-Nya adalah cinta sejati yang takkan pupus oleh waktu. Aku mau, kau akan menjadi bidadariku di bumi dan di negri yang abadi. Walau hal itu tak mungkin,tapi biarlah waktu berlalu hingga aku sanggup tuk memintamu menjadi bidadariku..Karena,sebelum aku berjuang tuk mendapatkanmu, aku akan berusaha untuk mencintai-Nya terlebih dahulu, kemudian mencintaimu karena-Nya.”

Itulah yang ditulis Latif didalam bukunya dan ia kini mengerti arti cinta sejati sesungguhnya.
Sumber Artikel :

Read More...

Serpihan Waktu

1 comment

Mulai menghitung sisa sisa serpihan
Segenap asa telah kucurahkan
Tapi
Masih belum ada hasil kutorehkan

Bara api melahap air
Dulu cair
Kini membeku
Oleh panasnya api tungku

Lucu...
Yah itulah realita
Gila...
Namun itulah tantangan

Sulit...
Tapi tak mustahil untuk menggapainya

Letih...
Ini bukanlah tempat istirahat

Kecewa...
Dia kan selalu ada tuk menemani jiwa

Gulana merasuk...
Dia masih setia tuk tetap ada

Dicampakan...
Mengertilah sebelum dimengerti

Mereka tuli...
Tapi aku tak sendiri
Dia masih setia menemani
Tuk mendengarkan lantunan melodi hati

Putus asa...
Kuatlah, karena cinta butuh pengorbanan

Hingga kuberharap di  serpihan waktuku
Kasih ini kan tetap ada
Tuk bersinar dan menorehkan tinta emas

Artikel Kiriman dari :

Hamba Allah dari SMA N 14






Read More...