Dakwah Bukan Karena Senang

Leave a Comment
 “Ada apa, akh? Kok kelihatannya lemes banget? Sakit?”
“Nggak, akh. Ana hanya baru dapat amanah baru nih.”
“Lalu kenapa murung?”
“Ana nggak suka amanahnya. Ribet ngurus teman-teman yang banyak begitu. Mana ana belum punya pengalaman lagi.”
“Ente masih mending, akh. Di tempat ana malah lebih parah. Banyak kader yang lepas. Action dakwahnya juga lemes. Jujur, ana jadi kurang semangat juga jadinya.”
Ya, mungkin komentar senada dengan di atas tak asing lagi bagi kita. Atau bahkan mulut kita sendiri pernah melontarkan hal yang sama. Klasik memang. Semangat dakwah menurun lantaran kondisi bi’ah dan jama’ah kurang kondusif. Saat itu, banyak sekali tuntutan yang keluar dengan mengatakan ini harusnya begitu, itu mestinya begini. Tapi di saat yang sama, kita tak melakukan apa-apa.
Kalau teman-temannya semangat, dirinya jadi semangat. Kalau teman-temannya produktif, dirinya juga produktif. Sebaliknya, kalau teman-temannya ‘diam’, dirinya ikut ‘diam’. Kalau teman-temannya futur, dirinya turut futur. Semuanya karena teman-temannya, karena bi’ah. Kalau teman-temannya enak, dakwahnya lancar. Tapi kalau sepi, apalagi cuma sendiri, dakwahnya jadi mati.
Inilah yang terjadi jika ‘mesin’ dakwah tidak diisi dengan bahan bakar yang semestinya. Pergerakan dakwah jadi bermasalah hanya gara-gara sumber energinya yang salah. Saudaraku, sumber energi dakwah bukanlah terletak pada kesenangan. Bukan bertumpu pada teman-teman yang menyenangkan, amanah yang menyenangkan, atau fasilitas yang menyenangkan. Karena yakinlah, kesenangan-kesenangan itu bersifat sementara. Apakah ketika kita bertemu rekan-rekan dakwah yang tidak menyenangkan kita jadi tidak senang berdakwah? Apakah ketika kita mendapati amanah yang tidak menyenangkan, kita jadi tidak amanah? Apakah ketika fasilitas sangat sedikit, kita jadi malas berjuang? Kalau itu yang masih kita rasakan, berhati-hatilah. Boleh jadi ada yang tidak beres dengan orientasi dakwah kita.
Untuk itu, isilah energi dakwah kita dengan cinta. Cinta kepada-Nya (QS. 2:165). Karena cinta tidak hanya setia ketika senang saja, tapi juga di saat susah. Karena cinta tidak hanya berjuang di saat ringan belaka, tapi juga di saat kita sangat berat untuk melakukannya (QS. 9:41).
Saudaraku, lihatlah Mush’ab bin Umair ketika diangkat menjadi duta dakwah di Yatsrib (Madinah). Dirinya ditugaskan untuk mengondisikan Yatsrib agar nantinya siap ditempati Rasulullah SAW dan para sahabat lainnya. Sungguh bukan perkara mudah. Karena saat itu Yatsrib adalah tempat yang asing dan bukan tanpa masalah. Di sana terdapat dua suku yang sering sekali berseteru, yaitu suku Khazraj dan Aus.
Namun bagaimana sikap Mush’ab bin Umair saat itu? Tak ada keluhan atau protes yang keluar dari mulutnya. Hanya satu sikap: taat. Besarnya kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya memberi dirinya kekuatan, yang kemudian membuat segala ketidaksenangan dan ketidaknyamanan yang ia temui dalam dakwah menjadi tak berarti.
Saudaraku, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci dan neraka itu dikelilingi dengan berbagai hal yang menyenangkan (syahwat).” [HR. Muslim]
Pada umumnya, memang tak ada kebaikan yang diawali dengan kesenangan. Salat Tahajud misalnya, mulanya kita bangun dengan penuh kepayahan, bukan? Bahkan saat mata belum sepenuhnya tersadar, kita sudah harus bersinggungan dengan dinginnya air dan berjuang sekuat tenaga untuk tegak berdiri, seraya bermunajat pada Allah SWT di kala yang lain tetap terlelap.
Contoh lain yang lebih akrab adalah puasa. Tak ada puasa yang awalnya dilakukan secara senang-senang. Yang ada malah kita harus kuat menahan lapar-haus, serta menjaga diri dari hal-hal kebiasaan, seperti bercumbu, marah-marah, dan lain sebagainya. Tapi kenapa kita tetap memerjuangkan itu semua? Tak lain adalah karena satu alasan: cinta.
Dakwah pun demikian. Terkadang ‘kacamata’ kita menangkap hal-hal yang tidak menyenangkan, yang tidak sesuai dengan takaran kenikmatan kita, yang kita tidak sadar bahwa dari situlah ada pelajaran dari-Nya (QS. 29:2). Namun, sadarkah bahwa ketidaksenangan-ketidaksenangan itu adalah harga yang harus kita bayar guna meraih kenikmatan yang hakiki (QS. 9:111)?
Sungguh, cinta membuat segala penat terasa nikmat. Cinta jugalah yang menjadikan perjuangan kita terasa indah. Seperti ucapan kepada kekasih, “Bukan karena kau cantik aku jadi cinta. Tapi karena aku cinta kau jadi cantik.” Maka begitu pula dalam dakwah, “Bukan karena dakwah terasa menyenangkan aku jadi cinta. Tapi karena aku cinta dakwah jadi terasa menyenangkan.”
Allahua’lam..

Oleh: Deddy Sussantho, De
Read More...

Revolusi Jilbab

2 comments
Revolusi JilbabAku seorang anak dari seorang ibu yang berpaham islam tradisional dan ayah seorang katolik. Perkawinannya membawaku kepangkuan islam. Jelas aku dididik dengan cara ibu. Aku dan adik-adik diharuskan shalat 5 waktu. Saat SMP aku belajar bersosialisasi dengan memasuki Karang Taruna. Lepas SMP aku memasuki sekolah kejuruan 1985. Tak kusia-siakan waktu, aku mengikuti kegiatan drama dan Rohis. Aktivitas dipengajian membuat ortu senang, karena aku sebagai anak sulung harus dapat menjadi contoh.

Tanda-tanda keanehan demikian ortu memandang penampilanku dengan baju lengan panjang,rok panjang, dan jilbab. Sebenarnya meraka Cuma kaget karena hal ini identik dengan tradisi keluarga ibuku yang dekat dengan budaya pesantren. Hal ini aneh, bahkan ditentang oleh sekolahku yang milik pemerintah dan mereka menentang siswinya berjilbab.  Ayah menggugahku dengan jiwa nasionalisme ala ABRI. “Kamu itu hidup disuatu Negara, punya peraturan dan harus diikuti. Kalau tidak taat, kamu melawan pemerintah secara langsung.”katanya. “Aduh, ayah kalo gitu gimana posisi manusia dengan hokum Allah. Padahal kita hidup dibumi Allah. Gimana logikanya,yah? Berarti kita menentang Allah,dong?

Pasca jilbab aku dan ayah sering dalam diskusi yang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap perubahanku.
“Kamu anak ABRI, kalau tidak taat pada sekolah, silahkan keluar cari sekolah lain!”
“Iya, saya siap.”tantangku
“Kalau kamu keluar, bapak tidak akan membiayai sekolahmu.”
“Saya tidak akan meminta sepeserpun dari bapak,” jawabku dengan berani

Astagfirullah aku berani menentang seorang laki-laki yang menjadi ayahku. Begitu beraninya! Tapi aku yakin, aku benar dan ayah, benar dengan jiwa nasionalismenya. Bukankah aku belajar agama untuk memperbaiki akhlaq? Tetapi semangat keislaman dan penentangan dari ayah membuat kami bermusuhan. Sementara itu, ibu mencoba memahami cara ibadahku dengan yang ia ajarkan sejak kecil. “Kamu sudah besar, kamu yang menanggung sendiri segalanya.”katanya

Sikap “bermusuhan” juga dilakukan oleh lingkungan rumahku. Alhamdulillah pengajian di Rohis menjadi santapan rutin yang menguatkan semangatku. Walau aku sudah berjilbab, aku belum mengaji. Teman-teman ikhwan disekolah memperhatikan hal itu. Kami janjian dikantin.  Ia mengajakku ikut dauroh (pelatihan). Aku dan temanku menunggun ikhwan yang mengantar kami ke masjid Al-azhar agar kami berkumpul dengan sesame akhwat. Ia datang , kamipun berjalan. Aku dan temanku menggerutu,” Kok dia ngajak tapi  kita ditinggal?” Kami memutuskan balik ke sekolah lagi. Saat ikhwan melihat kebelakang, kami sudah lenyap. Ia menyusul kami kembali. “Kakak sih, kami ikutin kakak tapi kakak jalan duluan.”sambut kami kepadanya. Kami ingin jalan berengan. Ternyata aku mendapat pelajaran baru bahwa islam membatasi pergaulan laki-laki dan perempuan seperti Nabi Musa dengan dua putrid Nabi Syu’aib.

Langkah kedepan yang spektakuler aku tempuh, aku mengadakan halaqah(pengajian) dirumah. Ikhwan yang datang langsung dipanggil bapak. Aku berdialog dengan bapak tentang kekafiran mengingat kakek bapak beragama nasrani.

“Kamu menganggap mbahmu kafirkan?”serang bapak
“Emang.” Kataku enteng
“jadi masuk neraka” serangnya lagi
“Iya.” Jawabku dengan yakin
“Jadi kamu tega mbahmu masuk neraka?”katanya

Dialog-dialog tersebut selalu menyudutkan posisi ayah. Dialog itu berubah menjadi meninggi. Puncaknya ayah tidak bisa menguasai emosinya dan mengusirku. Aku siap dengan tantangan itu. Subhanallah, ibu selalu membelaku dan tidak menerima kata-kata ayah. Ia menangisi kepergianku. Aku.. apakah harus pergi? Kulihat ibuku tetap menangis. Ku dengar dalam isaknya ia berbicara pada ayah,” Bagaimanapun ia anakmu!” Ayah gusar dan suaranya meninggi,” Buat apa kalau anak menyimpang dari bapaknya, kita kan makan dari pemerintah, kenapa kita menentang pemerintah?”Ibu menghampiriku,”Sudahlah kamu itu harus paham, bapak tidak begitu paham dengan agamanya. Kalau bapak ngajak dialog, kamu pergi saja.!” Akhirnya aku tetap dirumah, hubunganku sedikit retak dengan ayah.

Penentangan jilbab terutama disekolahku. Mereka memperbolehkan jilbab disekolah tapi tidak dikelas.  Aku dan kakak kelas sebelumnya melakukan bongkar pasang. Jumlah jilbaber semakin bertambah banyak. Sekolah mengeluarkan peraturan untuk menekan jumlah dengan harus melepas jilbab dari depan gerbang. Kami membandel dengan membukanya di mushala. Kepergok guru, ya diperingatkan dan disuruh buka. Kepergok satpam, ini bahaya sebab ada satu satpam yang tidak berperijilbaban. Kami diseret keluar gerbang. “Iih mana toleransinya,pak?”

Saat pulang, dari gerbang pula mulai memakai jilbab. Aku dan teman mencoba memakainya dari kelas. Sampai dibawah kami bertemu dengan ibu guru,” Eh kamu tunggu dulu!”  Kami nyengir dan mempercepat jalan. Ibu gurupun terus mengejar ke gerbang, ke jalanan, ke terminal blok-M. Pak satpam yang baik membiarkan kami melewati gerbang sekolah dan saat melewati dinas kapolri, pengawalnya menggoda kami,”Ayo  dikerjar tuh, ayo…ayo lari!” Ibu guru separuh baya itu terus mengejar kami. Tanpa melihat nomor metromini kami langsung naik, save by the bus.  Ibu itu mengacungkan tangannya kearah kami. Masya Allah ibu kuat sekali, sampe kami ngos-ngosan.

Kami dan sekokah masih dalam gencatan senjata. Kakak kelas berusaha berdialog tapi tidak mencapai titik temu. Kami harus tetap bongkar pasang di gerbang. Kami memutuskan keluar, apalagi ada ikhwan yang men-drop dana untuk biaya  sekolah kami.  Satu hal yang kupelajari bahwa keputusan itu harus dilihat dari berbagai segi pertimbangan.  Siapa yang berdakwah disini kalau semuanya keluar? Akhirnya kami tetap disini dan membuktikan kami bisa berprestasi.

Alhamdulillah posisiku dikelas membua teman-teman mau membantu. Kami bergaul baik dan membatasi diri bergaul dengan teman laki-laki.  Rambut kami dikuncir dan diriap bagi yang pendek. Istirahat kami berkumpul di mushala merapikan diri. Pernah kejadian, seorang akhwat diisengi oleh anak laki-laki. Ia mengatakan,” Bego banget sih, rambut bagus-bagus diumpetin!”  Yang rambutnya terpegang juga ada, akhwat itu marah-marah.

“Jangan dipengang, inikan aurat” katanya dengan marah
“Itu kan bukan aurat, dipegang ga berdarah.” Balas temanku itu
“Kalau ga berdarah kenapa kamu ga pegang gigi saya saja?”

Oala, benar juga kenapa? Perempuan dengan rambut memiliki daya tarik tersendiri bagi laki-laki. Subhanallah Allah telah memuliakan kami dengan jilbab. “Kuatkan kami, ya Allah . Untuk selalu dijalanMu.”

Berislam harus kaaffah(menyeluruh) tapi masya Allah itu sulit sekali. Keaktifanku di Rohis tidak menyurutkan teman-teman drama. Saat perpisahan kelas 3 aku diajak untuk menyumbangkan suara dalam sebuah lakon. Usai tampil, kakak ikhwan sudah menunggu didepan pintu.  “Akhwat ga boleh tampil,suara yang tampil……, saya tau itu suara kamu.”ucapnya dengan marah.  “Norak banget sih, kan orangnya ga keliatan?” balasku dalam hati. Astagfirullah, aku mencoba membenarkan diriku. Alhamdulillah, aku tak menyangka ukhuwah dalam islam berarti benar-benar meluruskan teman yang mulai bengkok. Tak pernah kutemui lagi ikhwan-ikhwan yang tanpa pamrih mengingatkan adik-adik kelasnya. Dan kami akhwat tidak ge-er karena kakak ikhwan memperhatikan kami sama baiknya.

Kurenungi semua tindakan teman-temanku, guru, ortu yang awalnya mereka semua antipati.  Subhanallah mereka berubah menjadi simpati, karena siswi berjilbab dari tahun ke tahun tidak pernah lenyap. Adik-adikku satu persatu mengikuti langkahku. Ayah sudah mulai menerima pemahamanku bahkan sekarang sudah mulai menunaikan shalat. Si Bungsu yang masuk pesantren mengatakan,” Tidak mau pulang kerumah kalau bapak belum shalat.” Ia sedih karena orang yang tidak shalat akan masuk neraka. Bapak mengabulkan permintaannya. Alhamdulillah, Jangan kau bolak-balikkan hati kami setelah kami mendapatkan hidayah-Mu. Itu yang aku inginkan dalam hidup ini.

Sumber : Buku putih “Revolusi Jilbab” . Kasus pelarangan jilbab di SMA Negeri Se-Jabotabek, 1982-1991

Read More...

Ibnu Sina si Bapak Kedokteran Dunia

Leave a Comment
“Dokter yang tidak peduli adalah asisten terbaik sang maut”
(Ibnu Sina)

Ibnu Sina, memiliki nama panjang Abu Ali Husain ibn Abdullah ibn Sina (sering dilatinkan jadi Avicenna di Barat). Karena besarnya kontribusinya terhadap dunia kedokteran lewat masterpiece-nya, Canon of Medicine, ia dijuluki “Bapak Kedokteran”. Bahkan kalau Anda membaca sendiri Canon of Medicine, Anda akan terkejut betapa banyaknya penyakit modern yang telah dibahas oleh Ibnu Sina beserta metode pengobatannya.


Sepanjang hidupnya, Ibnu Sina telah menulis lebih dari 450 buku dan jurnal. Termometer, aromaterapi, rumah sakit jiwa, dan destilasi uap, adalah beberapa temuan Ibnu Sina yang terpakai hingga sekarang. Tidak seperti kebanyakan ilmuwan sekarang yang fokus ke satu-dua bidang, karya-karya Ibnu Sina mengcover banyak sekali bidang termasuk kimia, fisika, kedokteran, filsafat, sastra, theologi, psikologi, astronomi, geologi, musik, politik, dan engineering. 

Saya pribadi sangat tertarik dengan karya-karya klasik Ibnu Sina yang kebetulan cukup sulit didapatkan secara online….dan alhamdulillah di suatu situs saya bisa mendownload banyak jurnal dan buku-buku sang bapak kedokteran ini, itupun yang ada kebanyakan bahasa Arab….masih cukup sedikit yang translate bahasa Inggris. Kalau Anda mau, Canon of Medicine sudah banyak terjemahannya dalam bahasa Inggris, baik full maupun per chapter. Namun dari banyak hunting-hunting itu Thee jadi banyak tahu juga fakta-fakta unik Ibnu Sina dari yang umum hingga yang mungkin jarang diketahui orang lain….
 
1) Ibnu Sina telah hafal Qur’an di usia 7 tahun. Ia juga telah memahami metafisika dan semua filsafat Aristoteles di umur 8 tahun (kalo di kita sekitar kelas 3 SD…). Di usia ini ia telah berinisiatif sendiri membeli buku tafsir metafisika Aristoteles karya Al-Farabi seharga 3 dirham. Buku itu sangat mempengaruhi hidupnya.
 
2) Ibnu Sina telah membahas kanker, tumor, diabetes, dan efek placebo pada masterpiece-nya Canon of  Medicine. Ia sendiri telah membahas tentang bedah tumor. Teorinya tentang cara penularan TBC sempat ditolak di Barat selama ratusan tahun, namun pada akhirnya diterima kebenarannya setelah mikroskop ditemukan. Demikian pula tentang efek placebo, baru diterima kebenarannya di Barat pada tahun 1960-an. Ia juga telah menyatakan dalam Canon tentang manfaat olahraga untuk menjaga kesehatan.

3) Uji klinis, experimental medicine, uji efektivitas obat, risk factor analysis, adalah beberapa kontribusi Ibnu Sina di bidang farmakologi klinis. Sebelum uji klinis dan kaidah-kaidahnya ditemukan , sebenarnya pada masa Islam obat-obatan dicobakan pada hewan seperti kera, singa, tikus, dan kuda untuk melalui uji kelayakan beredar.
 
4) Ibnu Sina adalah pelopor psikofisiologi, psikosomatik, dan neuropsikiatri. Ketertarikan ini membuatnya menulis banyak jurnal tentang psikologi dan psikiatri, jauh sebelum Carl Jung dan Sigmund Freud. Beberapa penyakit yang ia bahas di antaranya meliputi halusinasi, insomnia, mania, dementia, dan vertigo.
 
5) Ibnu Sina sangat percaya bahwa pikiran manusia dapat mempengaruhi kondisi fisiknya. Ia bahkan pernah berpesan pada murid-muridnya, “jangan pernah katakan kepada pasien kalau penyakit mereka tidak bisa diobati. Karena sesungguhnya sugesti kalian juga adalah obat bagi pasien”.
 
6) Di bidang fisika, Ibnu Sina adalah penemu termometer dan ia selalu menggunakan alat itu di setiap penelitiannya untuk mengukur suhu udara sekitar.
 
7) Di bidang kimia, Ibnu Sina menemukan teknik destilasi uap untuk mengekstrak minyak atsiri dari herbal dan rempah-rempah. Ia juga menemukan referigerated coil untuk mengkondensasikan uap aromatik, yang merupakan terobosan dalam teknologi destilasi.


 8) Karena ini, Ibnu Sina dianggap sebagai pelopor aromaterapi. Salah satu buku kimianya yang paling berpengaruh adalah Liber Aboali Abincine de Anima in Arte Alchemiae.
Di bidang mekanika, Ibnu Sina telah menjelaskan teori momentum dan inersia. Dalam percobaannya mengenai penembakan proyektil, ia telah menjelaskan pengaruh gravitasi, gaya awal, dan gesekan proyektil terhadap udara. Teori ini kemudian menginspirasi hukum kedua Newton.
 
 
9) Ribuan tahun sebelum fisika kuantum lahir, Ibnu Sina telah menjelaskan kecepatan cahaya dan sifat partikel/gelombang cahaya. Ia juga telah menguraikan bahwa semua materi di alam ini tersusun dari paket-paket energi (quanta)—yang kemudian menjadi salah satu fondasi fisika kuantum ribuan tahun kemudian.
 
10) Kalau kita membaca buku-buku motivasi diri dan ESQ tentang kekuatan alam bawah sadar, Ibnu Sina sebenarnya telah mengungkapkan Creative Mind sebagai kekuatan terbesar tersembunyi dalam diri manusia. Dia juga menulis tentang The Power of Self dan pentingnya autosugesti untuk penyembuhan dan peningkatan diri. Salah satu karya reflektifnya, “The Floating Man”, mengajak pembacanya untuk merenung tentang self-awareness ini. Salah satu ilmuwan barat yang terinspirasi dengan faham ini adalah Vincent Descartes sehingga lahir ucapannya yang terkenal, “aku berpikir maka aku ada”. Karya-karya Ibnu Sina tentang self-awareness ini pada akhirnya menginspirasi lahirnya tulisan-tulisan motivasi diri di Barat, seperti As A Man Thinketh.
 
11) Di bidang metafisika, Ibnu Sina telah menyatakan bahwa manusia dapat menciptakan kejadian dalam hidupnya dengan energi pikirannya ditambah emosi kuat yang menyertainya (mirip The Secret, believe it or not). Ia juga menyatakan Tuhan sebagai sumber segala energi di alam semesta. Gara-gara pernyataan ini, sejumlah filsuf dan ahli fiqh mendebat Ibnu Sina dan menuduhnya kufur. Namun Ibnu Sina menjawab “semua keberadaan energi ini adalah karena kehendak Allah. Apabila Ia berkehendak maka energi demikian bisa Ia musnahkan pula” . Apakah ini berarti Ibnu Sina juga bapak law of attraction?
 
12) Kalau Anda pernah memakai Rancangan Acak Kelompok atau Rancangan Acak Lengkap dalam melakukan penelitian atau menyusun skripsi, sebenarnya tanpa sadar Anda telah menggunakan salah satu temuan Ibnu Sina.
 
13) Di bidang engineering, Ibnu Sina merangkum dalam bukunya Mi’yar al-‘Aql (Measure of the Mind) klasifikasi mesin sederhana dan kombinasinya, seperti lever, pulley, screw, wedge, dan windlass (saya gak tau transletnya, soalnya istilah baku enginering hihihi). Ia menjelaskan semua mekanisme gaya dari alat-alat ini.
 
14) Pengobatan dengan lintah yang populer pada abad-18 di Eropa, sebenarnya adalah temuan Ibnu Sina.
 
15) Ibnu Sina menemukan peredaran darah manusia dan anatominya, 600 tahun lebih sebelum
William Harvey.
 
16) Ibnu Sina adalah founding father Rumah Sakit Jiwa. Di samping  dokter, dosen, dan filsuf, ia juga adalah seorang psikiater. Pada saat itu, di Eropa orang-orang gila masih dibakar hidup-hidup karena dianggap penjelmaan iblis.
 
17) Ibnu Sina membahas dalam Canon of Medicine tentang manfaat red wine memperkuat jantung. Tahun 1940-an, dunia kesehatan Barat membenarkan hal ini dengan adanya antioksidan fenolik bernama resveratrol yang terdapat dalam red wine. Resveratrol baru terpublikasi baik di dunia kesehatan pada tahun 1990-an.
 
18) Di Canon Ibnu Sina membahas tentang sifat etanol yang dapat membunuh mikroorganisme. Setiap kali hendak meracik obat atau menangani pasien, ia selalu mencuci tangannya dengan khamr—sebab isolat etanol belum ditemukan pada masanya.
 
19) Sebagian metode pengobatan Ibnu Sina menggabungkan unsur metode Unani (bahasa Arab untuk Yunani) yang saat itu hampir punah; dan pengobatan India serta nabawiyah. Kini metode Unani yang dijelaskan Ibnu Sina mulai digunakan kembali oleh orang-orang Barat sebagai salah satu metode kesehatan alternatif seperti halnya yoga.
 
20) Ibnu Sina memiliki kebiasaan berwudhu dan sholat sunnah 2 rakaat setiap kali ia menemukan jalan buntu meneliti atau menulis. Menurut pengakuannya, seringkali ia menemukan inspirasi kembali setelah sholat, atau dalam mimpi tidurnya.
 
21) Ibnu Sina di samping jagonya logika, otak kanannya tidak kalah hebat. Ia juga adalah penyair, jago main alat musik dan bernyanyi. Bahkan ketika ada kuliah malam, Ibnu Sina selalu menyempatkan break sejenak di mana para mahasiswanya bisa bermain musik dan bernyanyi di dalam kelas.
 
22) Kelebihan unik Ibnu Sina adalah kemampuannya menulis dan membaca sangat cepat. Ia bahkan bisa menulis dengan tulisannya tetap rapi di atas punggung kuda yang berjalan cepat.
 
23) Sejak kecil, Ibnu sina telah mendapatkan homeschooling dari banyak guru, dan ia tak malu berguru ke siapa saja. Ia mengaku semasa kecilnya mempelajari aritmatika dari seorang tukang sayur India – bahkan menyelinap ke pesantren seorang guru Persia untuk belajar ramuan obat. Hingga ia tua pun ia masih suka berguru ke banyak ilmuwan, salah satunya ahli fiqh terkenal Al-Farabi.
 
24) Di umur 18 tahun, Ibnu Sina telah menjadi ilmuwan fisika yang reputasinya dihormati dan dosen (bukan asdos loh…)
 
25) Di Asfahan, Ibnu Sina pernah dipenjara 4 bulan karena fitnah lawan-lawan politiknya. Sebelum itu, ia memang pernah menjabat sebentar di pemerintahan dan karena kinerjanya sangat bagus, banyak yang dengki padanya. Namun di dalam penjara, Ibnu Sina malah menghabiskan siang-malamnya untuk menulis buku yang kemudian menjadi salah satu masterpiece-nya sepanjang masa, Asy-Syifa. Asy-Syifa membahas banyak cabang ilmu mulai dari metafisika, geometri, musik, medis, sampai fisika. Keluar dari penjara, ia memutuskan bahwa politik bukan untuknya dan segera pergi mengembara hanya dengan pakaian melekat di badan, sedikit uang, dan setumpuk buku.
 
26) Sebelum menetap di Gorgan, Ibnu Sina pernah menyembuhkan pangeran Al Mansur ketika semua dokter di daerahnya menyerah. Pangeran itu menanyakan imbalan apa yang diinginkan Ibnu Sina : apakah uang? tanah? istana? Ternyata Ibnu Sina menjawab ia hanya ingin tinggal di perpustakaan Pangeran itu selama beberapa hari untuk melahap ilmu dari buku-bukunya.
 
27) Ibnu Sina pernah membuat tersinggung seorang pejabat setempat dengan menyindir kebiasaannya yang fanatik mazhab dan sukuisme. Pejabat ini pun marah-marah sambil mendatangi rektor universitas tempat Ibnu Sina mengajar, “pecat saja dia!”. Namun rektor itu menjawab dengan tegas, “saya tidak akan pernah memecat Ibnu Sina. Dia adalah seorang jenius dan saya percaya bahwa beratus-ratus tahun setelah kita tiada, karyanya akan tetap bersinar”.
 
28) Menjelang kematiannya, Ibnu Sina sempat menyatakan keinginannya untuk meneliti cara mengisolasi mikroorganisme. Namun ajal mendahuluinya, sehingga tidak sempat.
 
29) Ibnu Sina sangat workaholic. Ia menghabiskan sepanjang siangnya meneliti di lab, mengajar, atau menangani pasien, dan sepanjang malam ia belajar dan menulis buku serta jurnal. Bahkan sekretarisnya, Al Jauzakani, menyatakan bahwa Ibnu Sina meninggal karena kelelahan. Saat ia mendapat teguran dari temannya mengenai kebiasaan workaholic ini, Ibnu Sina menjawab “saya memilih umur pendek yang penuh makna dan karya, daripada umur panjang yang hampa”.
 
30) Karena sifat workaholic dan mindsetnya yang mendahulukan ilmu di atas segalanya, Ibnu Sina tidak pernah menikah seumur hidupnya. Menjelang meninggal, ia mendatangi setiap orang yang ia pernah sakiti untuk meminta maaf, dan hartanya ia bagi-bagikan untuk fakir miskin.
 
31) NASA menamakan salah satu kawah di bulan dengan nama Avicenna. Di Barat nama Avicenna banyak dipakai untuk nama klinik, penerbit, sekolah medis, klinik pengobatan alternatif, hingga hotel dan salon kesehatan. Bahkan, UNESCO memiliki ajang Avicenna Prize untuk mereka yang berjasa di bidang penelitian. Sebuah spesies bakau pun dinamai Avicennia, untuk mengenang jasanya.
 
32) Beberapa “murid jarak jauh” atau orang-orang yang banyak menerima pengaruh dari Ibnu Sina, hingga ratusan tahun setelah ia meninggal : Imam Ghazali, Umar Khayam, Ibnu Rusydi, Vincent de Beauvais, Isaac Newton, William Harvey, Thomas Aquinas, Galileo Galilei, Albertus Magnus, Rene Descartes, dan Jean Buridan.
 
Nah, itu baru Ibnu Sina. Sebenarnya, ilmuwan-ilmuwan muslim banyak melahirkan penemuan yang sampai sekarang terpakai oleh generasi kita, mulai dari kacamata, kamera, jam, not balok, kopi, peta dunia, air mancur, sabun sulfur, senyawa radioaktif, operasi plastik, mesin pompa, komputer analog, pesawat gantole, dan masih banyak lagi. Bahkan, kita takkan bisa menikmati alat musik piano kalau bukan jasa Al-Farabi yang menciptakan harpsichord. Harpsichord dimodifikasi lagi oleh orang Eropa menjadi klavikord, lalu piano.
 
Sekarang pertanyaannya, kapan lagi ya Islam melahirkan ilmuwan sekaliber Ibnu Sina? Thee percaya mungkin aja sudah ada hanya saja kitanya yang nggak kenal, hehehe. Tapi selama generasi muslim terus lahir, selalu ada kesempatan untuk melahirkan Ibnu Sina-Ibnu Sina baru.

Sumber Artikel : 30 Fakta Unik Ibnu Sina 
Read More...

Harun Yahya Flash

Leave a Comment


Ada yang baruuu niii....
Bagi temen-temen yang mau download animasi flash Harun Yahya, klik tulisan dibawah ini :
  1. The Amazing Journey of Salmon
  2. The Miracle of The Human Body
  3. Keajaiban Semut
  4. The Miracle of Honeybee
  5. Rancangan pada Tulang
  6. The Miracle in The Bird
Untuk presentasi lainnya bisa di download di  : Harun Yahya's Site atau di Harun Yahya's Site in English
Read More...

Kisah Muslimah Yang Paling Mulia Maharnya

Leave a Comment

Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang wanita  yang cantik, cerdas dan berakhlak mulia. Dialah Ummu Sulaim yang bernama lengkap Ruimasha' Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Hiram bin Jundab bin 'Amir bin Ghanam bin 'Adie bin an-Najaar al-Anshariyah al-Khazrajiyah.
Berkat sifat-sifat yang agung,  Ummu Sulaim dilamar Maalik Ibnu Nadhar. Buah pernikahan keduanya lahirlah seorang anak bernama Anas. Ummu Sulaim termasuk orang yang masuk Islam dari kalangan Anshar.  Dengan penuh keyakinan, Ummu Sulaim tanpa ragu meninggalkan kebiasaan orang Jahiliyah dari menyembah berhala.
Tak mudah bagi Ummu Sulaim untuk memeluk Islam, agama yang paling benar dan diridhai Allah SWT. Suaminya adalah orang yang pertam menghadang laju keimanannya. Maalik sangat marah begitu isterinya telah masuk Islam. "Apakah engkau telah musyrik?" Ummu Sulaim menjawab dengan penuh keyakinan dan keteguhan, "Aku tidak musyrik tetapi aku telah beriman".
Ummu Sulaim membimbing anaknya, Anas untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, "Katakanlah Laa Ilaaha Illallah, dan katakanlah Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah." Lalu Anas melakukannya. Melihat keadaan itu, Maalik berkata kepada Ummu Sulaim: "Janganlah merusak anakku".
Ummu Sulaim berkata, "Sesungguhnya aku tidak merusaknya akan tetapi aku mengajari dan membimbingnya."  Suatu ketika, Maalik pergi menuju Syam. Di dalam perjalanannya ia bertemu dengan musuhnya. dan  mati terbunuh. Mendengar kematian suaminya, ia  berkata, "Aku tidak akan memberi Anas makanan sampai ia meninggalkan musim susuku (ASI)."
Ia kemudian berkata lagi, "Aku tidak akan menikah sampai Anas dewasa.'' Kebaikan Ummu Sulaim diungkapkan Anas bin Maalik pada sebuah majelis, "Semoga Allah membalas jasa baik ibuku yang telah berbuat baik padaku dan telah menjagaku dengan baik." Ummu Sulain menyerahkan si jantung hatinya, Anas, sebagai pelayan di sisi seorang pengajar manusia dengan segala kebaikan, yakni Rasulullah SAW.
Lalu Rasulullah menyambutnya hingga sejuklah kedua mata Ummu Sulaim. Hari terus berganti. Orang-orang pun memperbincangkan Anas bin Malik dan ibunya dengan penuh kekaguman dan penghormatan. Kemuliaan dan kebaikan Ummu Sulaim terdengar di telinga Abu Thalhah, seorang hartawan di zaman itu.
Dengan  penuh cinta dan kekaguman sehingga ia berusaha untuk meminang Ummu Sulaim. Abu Thalhah pun melamar Ummu Sulaim dengan mahar yang mahal sekali. Namun, lamaran itu ditolak Ummu Sulaim.  "Tidak sepantasnya aku menikah dengan seorang musyrik. Tidakkah engkau mengetahui wahai Abu Thalhah, bahwa sesembahan kalian itu diukir oleh seorang hamba dari keluarga si Fulan. Sesungguhnya bila kalian menyalakan api padanya pastilah api itu akan membakarnya."
Terasa sempitlah dada Thalhah. Ia pun pergi dan hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar. Namun cintanya yang tulus  membuat Thalhah  kembali datang  dengan mahar yang paling istimewa.  Dengan harapan Ummu Sulaim bisa  luluh dan mau menerimanya.
Sebagai da'iah yang cerdas, Ummu Sulaim tak silau dengan harta, kehormatan, dan kegagahan. Lalu ia berkata  dengan santun, "Tidak pantas orang yang sepertimu akan ditolak wahai Abu Thalhah. Akan tetapi engkau seorang kafir sedang aku seorang Muslimah yang tidak pantas bagiku untuk menikah denganmu."
Lalu Abu Thalhah berkata, "Itu bukan kebiasaanmu." Ummu Sulaim berkata, "Apa kebiasaanku?" Ia berkata, "Emas dan perak." Ummu Sulaim menjawab,"Sesungguhnya aku tidak menginginkan emas dan perak, akan tetapi aku hanya inginkan darimu adalah 'Islam'."
Abu Thalhah lalu berkata, "Siapakah orang yang akan membimbingku untuk hal itu?" Ummu Sulaim berkata, "Yang akan mengenalkan hal itu adalah Rasulullah SAW." Pergilah Abu Thalhah menemui Nabi SAW. Ketika itu Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabatnya.
Saat melihat Abu Thalhah, Nabi SAW bersabda, "Telah datang kepada kalian Abu Thalhah yang nampak dari kedua bola matanya semangat keislaman." Lalu Abu Thalhah datang dan mengabarkan apa yang telah dikatakan oleh Ummu Sulaim terhadapnya. Abu Thalhah pun ahkhirnya menikahi Ummu Sulaim dengan mahar yang telah dipersyaratkannya, yakni Islam.
Tsabit seorang perawi hadits berkata, dari Anas RA, "Tidaklah aku mendengar ada seorang wanita yang lebih mulia maharnya dari pada Ummu Sulaim yang mana maharnya adalah al-Islam."
Sumber Artikel : 
Read More...